
Idul Fitri - Pakar : Ham Utamakan Persamaan dan Kebebasan

"Konsep HAM dalam ajaran Islam telah tergambar pada teologi Islam yang menerima mutlak kemajemukan, tidak ada perbedaan," katanya.
Makassar (ANTARA Sulsel) - Pakar hukum yang juga mantan Menteri Hukum dan HAM Prof Dr H Hamid Awaluddin mengatakan, hak asasi manusia mengutamakan dua aspek fundamental yakni persamaan dan kebebasan.
"Beberapa tahun terakhir ini, semuanya diperhadapkan dengan agenda besar yakni Hak Asasi Manusia yang seakan adalah otoritas mutlak kebebasan," kata Hamid pada khotbah shalat Idul fitri 1434 Hijriah di Masjid Al-Markaz al Islamy, Kamis.
Di depan sekitar lima ribu jamaah, Hamid mengatakan, pemahaman HAM sebagai otoritas mutlak kebebasan akan menjadikan tiran baru.
Padahal dua aspek itu tidak dapat dipisahkan, sehingga kebebasan tanpa persamaan adalah anarkis karena akan menimbulkan sikap semena-mena dan mempersepsikan yang lain berada di bawah.
"Konsep HAM dalam ajaran Islam telah tergambar pada teologi Islam yang menerima mutlak kemajemukan, tidak ada perbedaan," katanya.
Menurut dia, tak ada tempat dalam Islam bagi orang-orang yang mahir mematok kebenaran hanya miliknya seorang atau kelompoknya secara eksklusuf.
Alasannya, dalam ajaran Islam, pemutlakan adalah otoritas tunggal Allah SWT. Kemutlakan adalah juridiksi dan kedaulatan penuh Sang Khalik, bukan hamba-Nya.
"Disinilah letak posisi sentral ajaran Islam terhadap HAM, dimata Tuhann semua orang sama kecuali mereka yang bertaqwa dan berilmu. Prinsip egalitarian dalam Islam sangat jelas dan sentral," kata guru besar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Makassar.
Ribuan jamaah yang melakukan shalat Idul fitri tumpah di jalan raya di kawasan Masjid Al-Markaz Al-Islamy diantaranya Jalan Sunu, Pettaponggawa dan Jalan Masjid Raya, Makassar. Agus Setiawan
Pewarta : Suriani Mappong
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
