Takala (ANTARA) - Desa Bontomanai Kecamatan Mangarabombang Kabupaten Takalar menjadi desa percontohan mandiri energi di Provinsi Sulawesi Selatan.
"Desa Bontomanai yang merupakan mitra Tim Desa Energi Berdikari Universitas Hasanuddin ini patut menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kabupaten Takalar maupun Sulawesi Selatan secara umum," kata Kepala Desa Bontomanai, Muhammad Aris, di Takalar, Senin.
Dia menjelaskan, sebanyak 20 mahasiswa yang tergabung dalam Tim Desa Energi Berdikari Unhas ini sudah melakukan observasi pada Oktober 2024 lalu, dengan melakukan pendampingan hingga saat ini dan sudah berhasil mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Menurut dia, Program Desa Mandiri Energi ini memanfaatkan potensi sumber daya lokal untuk menghasilkan energi terbarukan yang ramah lingkungan.
Melalui pendampingan mahasiswa Unhas ini, lanjutnya, mahasiswa "sahabat bumi" ini mendampingi warga dalam mengembangkan teknologi sederhana berbasis energi surya atau matahari.
Hal itu dibenarkan oleh Sekretaris Tim Desa Energi Berdikari Unhas Almira Binti Kasim. Pengadaan PLTS dengan mengandalkan panel surya ini, mengurangi ketergantungan energi pada sumber energi fosil, sehingga tidak perlu membeli solar lagi untuk menghidupkan mesin pompa air diesel.
Menurut dia, selain memberikan pendampingan teknologi juga memberikan pelatihan manajemen dan perawatan sistem energi dengan membuatkan buku panduan, sehingga ke depan masyarakat mampu mengelola dan mengembangkan secara berkelanjutan.
Lebih jauh dijelaskan, pengadaan panel Surya yang merupakan energi hijau ini berkat dukungan PT Pertamina yang memberikan pendanaan lebih Rp100 juta melalui Pertamina Foundation. Dana tersebut digunakan untuk pembelian alat lebih dari Rp90 juta dan sisanya biaya penguatan kelompok tani dan pendampingan.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Balang Jaya Muhammad Basri mengatakan, keberadaan PLTS sangat membantu petani untuk menekan biaya produksi. Sebagai gambaran, saat masih menggunakan mesin pompa air tenaga diesel, harus mengeluarkan anggaran Rp100 ribu untuk membeli solar.
"Sekarang tidak perlu lagi membeli BBM dari energi fosil, karena cukup menggunakan tenaga surya saja sudah bisa mengoperasikan alat pompa air itu yang mempermudah pengaliran air dari satu sawah ke sawah lainnya.
Akibatnya, lanjut dia, hasil tanaman palawija jagung rata-rata mampu memproduksi 5 hingga 10 ton per hektare, padahal sebelumnya hanya sekitar 3 - 5 ton per hektare.
"Keberadaan PLTS meningkatkan produksi pangan yang notabene mendukung Program Ketahanan Pangan yang telah dicanangkan pemerintah," ujarnya.


