Mamuju (ANTARA) - Wakil Gubernur (Wagub) Sulawesi Barat (Sulbar) Salim S Mengga mendorong percepatan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah itu dan bukan lagi membahas kendala yang dihadapi.
"Jangan lagi bicara soal keterlambatan. Hampir semua daerah memang terlambat. Fokus kita adalah apa yang harus dilakukan untuk mempercepat agar MBG (Makan Bergizi Gratis) ini bisa segera berjalan maksimal," kata Wagub Salim Mengga di Mamuju, Selasa, saat memimpin rapat persiapan menjelang kunjungan tim monitoring dan evaluasi (monev) pembangunan SPPG di wilayah Sulbar.
Wagub menyampaikan saat ini terdapat 46 SPPG yang sudah terdata dan menyatakan kesiapan, meskipun yang telah beroperasi secara penuh masih terbatas.
"Walaupun yang sudah operasional masih terbatas, tapi mereka sudah siap. Ini sebenarnya lebih karena kurangnya informasi yang membuat pihak swasta yang berminat ikut serta dalam program ini menjadi sedikit ragu," kata Salim Mengga.
Banyak calon pelaksana dari sektor swasta, lanjut dia, belum memahami secara pasti persyaratan dan mekanisme pendanaan SPPG.
Namun melalui rapat tersebut Salim Mengga berharap informasi telah disampaikan secara rinci, termasuk sistem pendanaan dan syarat administrasi yang harus dipenuhi.
"Persyaratannya sebenarnya tidak sulit. Hanya saja karena informasi terbatas, itu yang menjadi masalah. Ke depan, sosialisasi harus lebih digencarkan agar masyarakat dan pihak swasta memahami dengan jelas," kata Wagub Sulbar itu.
Wagub juga menyoroti pentingnya kesiapan bahan baku saat seluruh SPPG mulai beroperasi secara bersamaan.
Saat ini, kata dia, sebagian besar pasokan bahan pangan di Sulbar masih bergantung dari luar daerah, seperti dari Sulawesi Selatan..
"Kalau Sulsel dan Sulbar beroperasi secara penuh dalam waktu yang sama, ada kekhawatiran bahan baku menjadi terbatas. Kalau permintaan pasar tinggi, tentu ada potensi harga naik. Ini harus kita antisipasi,"jelas Salim Mengga.
Ia mendorong masyarakat agar mulai menanam sendiri komoditas pangan, seperti sayuran dan tomat, guna memenuhi kebutuhan lokal.
Wagub juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga dan pasokan.
"Apalagi tanah kita cukup subur. Kita bisa manfaatkan itu untuk memastikan suplai tetap stabil dan harga tidak melonjak," katanya.
Terkait lokasi, Wagub menyebut hampir seluruh kabupaten di Sulbar memiliki lahan yang siap digunakan, baik milik pemerintah provinsi maupun kabupaten.
Namun Wagub mengakui adanya tantangan logistik di daerah pegunungan yang bisa menyebabkan biaya operasional lebih tinggi dibandingkan wilayah perkotaan.
"Untuk itu diperlukan dukungan agar distribusi dan operasional di daerah terpencil tetap berjalan lancar. Kalau ada perbedaan biaya, jangan sampai terlalu mencolok," kata Wagub Salim Mengga.

