Makassar (ANTARA) - Pemerintah Kota Makassar, Sulawesi Selatan membangun dua kawasan pertanian perkotaan (urban farming) modern sebagai percontohan dalam mendorong kemandirian pangan dan ekonomi kerakyatan di Kecamatan Tamalate dan Kecamatan Biringkanaya.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin di Makassar, Rabu, mengatakan urban farming yang dikembangkan pemerintah bukan sekadar aktivitas bercocok tanam di perkotaan, melainkan gerakan pembangunan sumber daya pangan modern yang terintegrasi.
"Urban farming bukan sekadar aktivitas pertanian kota, tetapi sebuah gerakan strategis untuk menciptakan ekosistem pangan modern, produktif, dan berkelanjutan di tengah laju urbanisasi. Program ini harus memberikan manfaat ekonomi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat," ujarnya.
Munafri menekankan bahwa pengembangan kawasan percontohan urban farming harus matang dari segi konsep, konstruksi, hingga estetika tata ruang.
Ia juga memberikan beberapa catatan teknis agar pembangunan kawasan tetap memerhatikan aspek lingkungan, fungsi edukasi, dan kenyamanan pengunjung.
"Kalau bisa jalan di kawasan ini menggunakan beton berpori karena wilayah ini membutuhkan serapan air yang baik. Kita tidak boleh mengabaikan aspek lingkungan," katanya.
Munafri pun meminta agar desain kandang hewan dan fasilitas pendukung lainnya tidak dibangun dengan material besi sepenuhnya.
"Kalau bisa material kandangnya lebih banyak menggunakan kayu. Supaya ada kesan natural, tapi tetap kokoh dan aman. Jadi suasananya tetap alami, nyaman dipandang," tuturnya.
Wali Kota menegaskan bahwa kawasan Green House Urban Farming harus mencerminkan konsep energi mandiri dan ramah lingkungan. Karena itu, ia meminta seluruh fasilitas pendukung listrik menggunakan energi surya.
"Saya minta listriknya pakai solar panel. Pastikan semua fasilitas di kawasan ini memakai energi terbarukan. Ini bukan hanya tempat produksi, tapi juga tempat edukasi," tegasnya.
Untuk desain tata ruang, ia ingin pengunjung memperoleh pengalaman edukasi secara sistematis.
Ia juga ingin orang masuk ke kawasan ini seperti masuk museum edukasi pertanian. Mereka jalan memutar, melihat semua proses urban farming dari hulu ke hilir, baru keluar dengan membawa produk atau oleh-oleh dari market farm.
Dalam arahannya, Munafri juga meminta agar kawasan dilengkapi area hijau produktif seperti kebun tanaman pangan lokal, termasuk pohon pisang yang menurutnya dapat memberi kesan hidup dan dekat dengan keseharian masyarakat.
"Saya mau tetap ada pohon-pohon di sekitar area, misalnya pohon pisang. Supaya ada suasana alami, dekat dengan masyarakat. Bahkan bisa saja orang jual pisang goreng di situ, jadi hidup suasananya," ucapnya.

