Logo Header Antaranews Makassar

Perubahan iklim dapat pengaruhi sistem fisik pesisir

Selasa, 6 Januari 2026 18:29 WIB
Image Print
Suasana kondisi bibir Pulau Sabutung di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan yang mengalami abrasi abrasi karena tanggul pemecah ombak sudah rusak, sehingga tidak mampu menahan ombak saat musim hujan dengan gelombang yang tinggi. ANTARA/ Suriani Mappong

Makassar (ANTARA) - Pakar Hidrologi Universitas Hasanuddin, Dr Riswal Karamma mengatakan, perubahan iklim dapat mempengaruhi perubahan sistem fisik kawasan pesisir dan pulau.

"Salah satu kondisi itu menyebabkan permukaan air laut semakin tinggi, akibatnya terjadi abrasi akibat hempasan gelombang yang semakin tinggi, terutama pada musim hujan yang juga dapat memicu banjir rob," kata Riswal di Makassar, Selasa.

Menyikapi hal tersebut, dan untuk mencegah atau menangkal hal itu dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan "Struktur Engineering" dalam bidang keteknikan. Pertama dengan Struktur keras (hard engineering) seperti bangunan pemecah ombak yang diistilahkan seawall, revetment, breakwater, groin, dan submerged reef.

Bangunan tersebut digunakan untuk mereduksi energi gelombang, menahan abrasi, memperbaiki stabilitas garis pantai, dan melindungi permukiman.

Kemudian dengan pendekatan soft engineering atau teknik lunak dengan membuat penangkal pantai misalnya beach nourishment, rehabilitasi gumuk pasir, dan pengembangan sabuk mangrove yang berfungsi meningkatkan ketahanan alamiah pesisir terhadap perubahan energi gelombang.

Sementara itu, Pemerhati Lingkungan yang juga Direktur Eksekutif Jurnal Celebes Mustam Arif mengatakan, beberapa tahun lalu, Dewan Nasional Perubahan Iklim membuat prediksi, hingga 2100, Indonesia akan kehilangan 115 pulau karena dampak perubahan iklim.

"Itu artinya ancaman paling nyata kita hadapi ke depan adalah naiknya permukaan air laut di pulau-pulau atau wilayah pesisir. Sementara di Sulsel pulau terbanyak ada di Kabupaten Pangkep memiliki kurang lebih 115 pulau, lebih dari seperduanya berpenghuni," katanya.

Karena itu, lanjut dia, masyarakat pulau di Pangkep mengalami ancaman kehilangan daratan, kerusakan atau kehilangan ekosistem pesisir, juga berarti kehilangan fasilitas fisik, sarana dan prasarana penghidupan.

Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah dan para pihak harus bergandengan melakukan langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi kondisi terburuk itu, Salah satu dengan membuatkan tanggul pemecah ombak di pulau dan menggiatkan penanaman mangrove atau bakau di sepanjang pesisir pantai dan pulau.

Suasana kondisi wilayah pesisir di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan yang terancam abrasi karena tidak memiliki tanggul pemecah ombak. ANTARA/ Suriani Mappong


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pakar: Perubahan iklim dapat pengaruhi sistem fisik pesisir



Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026