Logo Header Antaranews Makassar

DVI ambil delapan sampel DNA keluarga korban kecelakaan pesawat

Senin, 19 Januari 2026 19:30 WIB
Image Print
Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto (dua kiri) Kepala Biddokkes Polda Sulsel Kombes Pol Muhammad Haris (dua kanan), Kepala Bidang DVI Pudokkes Mabes Polri AKBP Wahyuhidayati (kanan) beserta tim DVI menjawab pertanyaan wartawan saat konferensi pers terkait penanganan kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, di Biddokes Polda Sulawesi Selatan, Jalan Kumala Makassar, Senin (19/1/2026). (ANTARA/Darwin Fatir/

Makassar (ANTARA) - Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan telah mengambil delapan sampel DNA kepada keluarga korban kecelakaan pesawat ATR 4-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep).

"Tim telah memeriksa ante mortem keluarga korban. Ada delapan orang DNA (diambil) dan keterangan lainnya. Untuk dua lainnya (keluarga korban) belum," ujar Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto kepada wartawan di Posko DVI Biddokes Polda Sulsel, Jalan Kumala Makassar, Senin.

Ia menjelaskan setelah pengumpulan keterangan dan data ante mortem dan post mortem dari pihak keluarga, langkah selanjutnya dilakukan pencocokan dengan korban apabila ditemukan tim SAR gabungan, termasuk barang-barang korban.

"Dari data awal ante mortem dan post mortem ini akan dicocokkan, apakah sesuai dengan pihak penerbangan perusahaan itu. Kita masih menunggu penyerahan jasad korban atau temuan lainnya," tutur Didik saat konferensi pers.

Guna memperlancar proses identifikasi, kata dia, tim DVI telah menjemput bola melalui bekerja sama dengan Biddokes Polda lain tempat keluarga korban berdomisili guna memudahkan pengambilan data dan sampel DNA.

"Ada empat keluarga korban yang datang ke DVI dan empat keluarga yang didatangi tim di kediaman masing-masing. Data korban ini nanti disampaikan setelah diidentifikasi," katanya.

Terkait dengan dua jenazah korban yang telah ditemukan tim pencarian dalam operasi SAR dari total 10 orang korban di Gunung Bulusaraung, kata dia, diduga kuat adalah kru pesawat ATR tersebut.

"Tapi, kita tidak boleh menyampaikan siapa saja (identitas) yang sudah (ditemukan) dan belum, agar tidak terjadi kesalahan," ucap Didik.

Sementara Kepala Bidang DVI Pudokkes Mabes Polri AKBP Wahyuhidayati menyebutkan sudah ada dua korban ditemukan. Namun belum diterima sampai saat ini untuk dilakukan pemeriksaan.

"Setelah ada jenazah baru bisa dilakukan post mortem. Jadi untuk jenazah pengambilan sampel akan dilaksanakan di tempat pemeriksaan jenazah. Kami tidak pernah mengambil sampel di TKP. Supaya, nanti terdata dengan baik nomornya, segala administrasinya," tutur Wahyuhidayati.

Sejauh ini belum ada jenazah tiba di Posko DVI Biddokes Polda Sulsel. Kendati demikian pihaknya tidak tinggal diam dan bergerak mengumpulkan data ante mortem.

"Ini ternyata keluarga-keluarganya itu tidak ada di Sulsel. Ada yang di Jateng, ada di Jabar, ada di Bekasi. Kami berkoordinasi dengan Biddokes Polda setempat untuk mencari, mendatangi keluarga," ucapnya.

Setelah mendapat kabar kecelakaan itu, ternyata beberapa keluarga secara inisiatif mendatangi Biddokes di Polda lain untuk diambil sampel DNA, bahkan difasilitasi oleh maskapai penerbangan untuk datang ke Sulsel.

"Makanya, kita tunggu. Sambil kita juga meminta nomor kontak para keluarga tersebut kalau kita butuh data tambahan, kita bisa tetap komunikasi," katanya.

Pada Operasi SAR hari ketiga, tim SAR gabungan kembali menemukan satu korban dengan jenis kelamin perempuan berada di jurang Gunung Bulusaraung pada kedalaman 50 meter dari puncak. Sehari sebelumnya tim menemukan jenazah korban laki-laki di lereng jurang.

Sebelumnya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dinyatakan hilang kontak di wilayah pegunungan Bulusaraung daerah perbatasan Kabupaten Maros-Pangkep, saat hendak mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin pada Sabtu (17/1/2026) siang.

Pesawat ini ditumpangi 10 orang, tujuh orang kru pesawat dan tiga orang penumpang POB (Persons on Board). Ketiganya diketahui pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) atas nama Ferry Irawan, Deden Mulyana dan Yoga Naufal.

Sedangkan kru pesawat tujuh orang yakni pilot Captain Andi Dahananto, co-pilot Muhammad Farhan Gunawan, kru pesawat yakni Hariadi, Restu Adi, Dwi Murdiono, Florencia Lolita, dan Esther Aprilita.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: DVI ambil delapan sampel DNA keluarga korban kecelakaan pesawat ATR



Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026