
Perlu hidupkan kembali "Pappaseng Toriolo" dari leluhur

Makassar (ANTARA) - Pakar sekaligus Guru Besar Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin Makassar Prof Dr Nurhayati Rahman Matammeng M.Hum menekankan pentingnya menghidupkan kembali "Papaseng Toriolo", pesan dari leluhur.
"Hal ini penting sebagai perisai karakter generasi muda di tengah gempuran budaya global," kata dia di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa.
Dia mengatakan kearifan masa lampau masyarakat Suku Bugis-Makassar diabadikan dalam dua wadah utama, yakni lisan dan tulisan melalui naskah "Lontara".
Pesan-pesan ini, kata dia, bukan sekadar kata-kata, melainkan memori kolektif yang berfungsi sebagai alat kontrol sosial di lapangan.
"'Papaseng' itu adalah alat pengontrol perilaku. Leluhur kita menciptakan dasar yang kuat agar masyarakat hidup teratur dan memiliki integritas, bahkan sebelum adanya sistem pendidikan formal," ujarnya.
Ia mencontohkan pesan leluhur melarang tindakan korupsi melalui perumpamaan halus namun tegas.
Larangan "menaikkan harta ke rumah di tengah malam" secara esensial adalah peringatan keras terhadap perilaku mengambil hak orang lain secara sembunyi-sembunyi yang diiringi dengan sanksi alamiah.
“Kalau secara logika, itu kan perilaku mencuri, karena dia bawa hasil curian ke rumahnya,” kata dia.
Oleh karena itu, Nurhayati mengajak para ibu dan pendidik untuk tidak berhenti mentransmisikan nilai-nilai ini.
Menurutnya, identitas sebagai orang Bugis-Makassar harus dijaga agar generasi mendatang tidak kehilangan jati diri di tengah arus informasi yang tak terbendung.
“Pesan-pesan orang tua dulu tetap harus jaga dan diterapkan di kehidupan era sekarang, karena hal ini yang dapat menjaga identitas kita,” katanya.
Pewarta : Suriani Mappong
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
