Logo Header Antaranews Makassar

Kesenjangan pemberitaan soal isu perubahan iklim di daerah masih tinggi

Rabu, 20 Mei 2026 23:10 WIB
Image Print
Suasana pemaparan kajian kolaboratif yang disampaikan Operation Manager and Science Communicator MCCH, Amelia Pearson di Makassar, Rabu (20/5/2026). ANTARA/ Suriani Mappong

Makassar (ANTARA) - Hasil kajian kolaborasi antara Monash Climate Communication Hub (MCCH), Australia-Indonesia Centre (AIC), dan Universitas Hasanuddin (Unhas), kesenjangan pemberitaan isu perubahan iklim di daerah masih tinggi.

"Salah satu kesenjangan ini menunjukkan media daerah masih jarang mengaitkan cuaca ekstrem dengan perubahan iklim akibat aktivitas manusia," kata Operation Manager and Science Communicator MCCH, Amelia Pearson di Makassar, Rabu.

Dia mengatakan sebagian besar pemberitaan di daerah lebih fokus pada dampak bencana dan penanganannya, dibanding mengulas penyebab jangka panjang yang memicu perubahan iklim.

Menurut Amelia, pemahaman wartawan terkait isu perubahan iklim dan energi masih belum sebanding dengan kebutuhan peliputan yang semakin kompleks. Kondisi itu diperparah dengan minimnya pelatihan tentang konsep-konsep iklim dan energi yang diterima para jurnalis.

Ia mengungkapkan sumber ilmiah masih sangat minim digunakan dalam pemberitaan. Dari keseluruhan isi berita yang dikaji, hanya sekitar lima persen informasi yang berasal dari ilmuwan atau pakar terkait perubahan iklim.

Meski demikian, Amelia menilai para wartawan memiliki minat tinggi untuk memperdalam pemahaman mengenai isu iklim dan energi. Mereka dinilai membutuhkan akses yang lebih mudah terhadap informasi ilmiah, data penelitian, dan jaringan sumber terpercaya untuk meningkatkan kualitas peliputan.

Temuan tersebut menjadi dasar pelaksanaan program “Supporting Climate Reporting in Indonesian Newsroom” yang diinisiasi MCCH, AIC, dan Unhas.

Program ini melibatkan 15 wartawan dari Sulawesi Selatan untuk memperkuat kapasitas jurnalisme iklim di daerah. Hasil kajian juga menunjukkan bahwa pemberitaan iklim di Indonesia selama ini lebih banyak bergantung pada sumber pemerintah sebesar 45 persen dan dunia usaha sebesar 40 persen.

Sementara perspektif ilmiah maupun masyarakat terdampak masih relatif kecil mendapat ruang dalam pemberitaan.

Dalam program tersebut, para wartawan mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari diskusi di Makassar hingga kunjungan lapangan ke kampung pesisir Laikang di Kabupaten Takalar.

Di lokasi itu, peserta mengamati langsung tantangan perubahan iklim yang dihadapi nelayan dan petani rumput laut. Beberapa wartawan terpilih juga mendapat kesempatan mengikuti pelatihan intensif di Melbourne bersama pakar iklim Monash University, termasuk Profesor Andrew Watkins.

Mereka mengikuti pelatihan jurnalistik berbasis solusi dan berdiskusi dengan peneliti serta wartawan Australia mengenai peliputan isu iklim. Kolaborasi tiga lembaga tersebut dinilai berhasil membuka peluang penguatan hubungan antara wartawan dan komunitas ilmiah.

Program itu diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan diri jurnalis dalam menghadirkan pemberitaan iklim yang lebih mendalam, berbasis data, dan berdampak bagi masyarakat Indonesia.


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kesenjangan pemberitaan tentang perubahan iklim di daerah masih tinggi



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026