Logo Header Antaranews Makassar

Hasil uji kompetensi guru Sulsel rendah

Jumat, 10 Juli 2015 05:08 WIB
Image Print
"Berdasarkan hasil UKG yang dilaksanakan pemerintah secara nasional, rata-rata nilai UKG guru...

Makassar (ANTARA Sulsel) - Koordinator Provinsi Usaid Prioritas Sulawesi Selatan Jamaruddin mengatakan hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) Sulsel tergolong rendah atau di bawah rata-rata nasional.

"Berdasarkan hasil UKG yang dilaksanakan pemerintah secara nasional, rata-rata nilai UKG guru pada tahun 2015 adalah 47 dari nilai ideal tertinggi 100. Sulsel menempati daerah yang nilai UKG gurunya bahkan di bawah rata-rata nasional," kata Jamaruddin di Makassar, Kamis.

Jamaruddin menjelaskan bahwa kompetensi merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

Pemerintah pusat telah mengembangkan UKG.

"Kalau mutu guru kita rendah, pada akhirnya berdampak pada rendahnya kompetensi siswa, dan tentu saja ini mempengaruhi kemajuan bangsa secara keseluruhan ke depan," ujarnya.

Rendahnya mutu guru ini didukung pula oleh rendahnya mutu kepala sekolah yang seharusnya menjadi petugas yang bisa menyelia dan membina para guru tersebut.

Nilai rata-rata nasional kepala sekolah adalah 45,92, namun di Sulsel hanya 42,42 dan menjadi urutan terbawah ke enam se-Indonesia.

"Dimensi yang paling rendah terletak pada nilai supervisi yaitu 36,45 ini juga sangat memprihatinkan karena memperlihatkan kurangnya kemampuan kepala sekolah melakukan evaluasi terhadap pembelajaran di kelas-kelas," kata Jamaruddin.

Menurut dia, nilai-nilai rata-rata kompentesi yang ternyata di bawah 50 memperlihatkan perlunya segera intervensi untuk meningkatkan kapasitas para guru dan kepala sekolah lewat pelatihan yang lebih sistematis, terarah dan berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Sulsel Basri mengatakan untuk mengatasi lemahnya kompetensi guru dan kepala sekolah, dua hal paling penting adalah pelatihan pembelajaran dan manejamen berbasis sekolah.

"Dengan pelatihan pembelajaran, guru bisa mengetahui cara mengajar yang baik dan dengan pelatihan manajemen berbasis sekolah, kepala sekolah juga bisa memaksimalkan peran-perannya," kata Basri.

Basri juga mengatakan bahwa komitmen para guru juga masih sangat kurang untuk meningkatkan kompetensinya, terutama dengan memanfaatkan tunjangan sertifikasinya.

Menurut dia, dana sertifikasi seharusnya lebih banyak untuk meningkatkan kapasitas, daripada dihabiskan untuk kebutuhan konsumsi.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026