
LPMI sebut Perusda Terminal Makassar pungli

"Retribusi itu kami sebut pungli di berlakukan direksi Terminal Daya ...
Makassar (ANTARA Sulsel) - Puluhan orang tergabung dalam Lembaga Persatuan Mahasiswa Indonesia (LPMI) Makassar mengelar aksi terkait temuan adanya pungutan liar Perusahaan Daerah Terminal.
"Retribusi itu kami sebut pungli di berlakukan direksi Terminal Daya termasuk sumbangan tidak jelas yang dibebankan kepada penumpang," kata korlap aksi Hendra di Balai Kota Makassar, Rabu.
Ia menyebut untuk pungutan retribusi bagi kendaraan yang masuk Terminal Regional Daya Makassar sebesar Rp7.000, lebih tinggi dari Bandara. sedangkan fasilitas umum lainnya seperti toilet, parkir Rp2.000 bahkan Musolah juga dikenakan Rp1.500 sekali masuk.
"Jelas ini pungli yang dilakukan secara sistematis dilakukan pihak direksi perusahaan, tentu saja ini menjadi alasan mengapa orang malas masuk terminal karena terlalu mahal. Kami mendesak Wali Kota mengkaji dan melihat persoalan ini," ujarnya sambil memperlihatkan karcis tersebut.
Pendemo menilai kebijakan yang diambil pihak perusda tentu melalui pemilik atau owner dalam hal ini Wali Kota Makassar sehingga berani memberlakukan retribusi dianggap terlalu tinggi. Setelah meyampaikan orasi, demonstran kemudian membubarkan diri.
Secara terpisah Direktur Utama Perusda Terminal Makassar Metro Hakim Syahrani dikonfimasi terkait persoalan itu berkilah dan menyatakan sebelumnya sudah dirapatkan direksi termasuk menyampaikan hasil rapat ke Wali Kota dan setujui.
"Kebijakan itu hasil rapat bersama dan menjadi keputusan jajaran direksi perusda, dewan pengawas, organda dan pekerja di terminal, selanjutnya di sampaikan ke Wali Kota," kilah Hakim.
Mengenai dengan tudingan mahasiswa pemberlakukan retribusi itu adalah pungli, kata dia, membantah dengan tegas bahwa kenaikan retribusi itu sudah sesuai aturan
"Semua itu tidak benar, mana mungkin saya berani-berani menaikkan tarif kalau tidak ada persetujuan Wali Kota, tentu semua sudah dipertimbangkan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah," katanya.
Pewarta : Darwin Fatir
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
