NTP Sulsel naik 0,88 persen pada Oktober 2021
Selasa, 2 November 2021 17:12 WIB
Tangkapan layar. Kepala BPS Sulsel Suntono memaparkan nilai tukar petani (NTP) periode Oktober 2021 secara virtual. ANTARA/Muh Hasanuddin
Makassar (ANTARA) - Badan Pusat Statistik menyatakan nilai tukar petani (NTP) di Provinsi Sulawesi Selatan yang berada di angka 98,81 persen pada September 2021 naik 0,88 di Oktober 2021 menjadi 99,78 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan Suntono di Makassar, Selasa, mengatakan semua petani sangat senang jika NTP mengalami kenaikan, namun tidak halnya pada saat terjadi penurunan.
"Kalau NTP naik pastinya petani senang. Tapi fluktuasi itu biasa apalagi angkanya tidak terlalu besar," katanya.
Ia menjelaskan perbandingan indeks harga yang diterima petani (IT) terhadap indeks harga yang dibayar petani (IB) menjadi indikator naik atau turunnya nilai jual.
Suntono menyatakan pada Oktober 2021, dua dari lima subsektor Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami penurunan yaitu subsektor tanaman pangan dan subsektor peternakan, yaitu masing-masing turun sebesar 0,01 persen dan 0,89 persen.
Ia menjelaskan NTP yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani, merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan.
NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli petani.
Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan pada Oktober 2021, NTP di Sulawesi Selatan secara umum mengalami peningkatan sebesar 0,88 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
NTP bulan September 2021 sebesar 98,90 naik menjadi 99,78 pada bulan Oktober 2021. Peningkatan NTP tersebut terjadi karena kenaikan indeks yang diterima petani (it) mengalami peningkatan sementara indeks dibayar petani (ib) mengalami penurunan. It mengalami kenaikan sebesar 0,73 persen sedangkan Ib mengalami penurunan sebesar 0,15 persen.
Tiga dari lima subsektor mengalami peningkatan pada Indeks yang diterima petani (it), yaitu pada subsektor tanaman hortikultura, subsektor tanaman perkebunan rakyat dan subsektor perikanan.
Peningkatan indeks yang diterima petani (it) terbesar terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat, yaitu naik sebesar 3,82 persen.
Sedangkan Indeks yang dibayar petani (Ib) mengalami penurunan disemua subsektor. Penurunan Indeks yang dibayar petani (Ib) terbesar terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat, yaitu turun sebesar 0,21 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan Suntono di Makassar, Selasa, mengatakan semua petani sangat senang jika NTP mengalami kenaikan, namun tidak halnya pada saat terjadi penurunan.
"Kalau NTP naik pastinya petani senang. Tapi fluktuasi itu biasa apalagi angkanya tidak terlalu besar," katanya.
Ia menjelaskan perbandingan indeks harga yang diterima petani (IT) terhadap indeks harga yang dibayar petani (IB) menjadi indikator naik atau turunnya nilai jual.
Suntono menyatakan pada Oktober 2021, dua dari lima subsektor Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami penurunan yaitu subsektor tanaman pangan dan subsektor peternakan, yaitu masing-masing turun sebesar 0,01 persen dan 0,89 persen.
Ia menjelaskan NTP yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani, merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan.
NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli petani.
Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan pada Oktober 2021, NTP di Sulawesi Selatan secara umum mengalami peningkatan sebesar 0,88 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
NTP bulan September 2021 sebesar 98,90 naik menjadi 99,78 pada bulan Oktober 2021. Peningkatan NTP tersebut terjadi karena kenaikan indeks yang diterima petani (it) mengalami peningkatan sementara indeks dibayar petani (ib) mengalami penurunan. It mengalami kenaikan sebesar 0,73 persen sedangkan Ib mengalami penurunan sebesar 0,15 persen.
Tiga dari lima subsektor mengalami peningkatan pada Indeks yang diterima petani (it), yaitu pada subsektor tanaman hortikultura, subsektor tanaman perkebunan rakyat dan subsektor perikanan.
Peningkatan indeks yang diterima petani (it) terbesar terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat, yaitu naik sebesar 3,82 persen.
Sedangkan Indeks yang dibayar petani (Ib) mengalami penurunan disemua subsektor. Penurunan Indeks yang dibayar petani (Ib) terbesar terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat, yaitu turun sebesar 0,21 persen.
Pewarta : Muh. Hasanuddin
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemprov Sulsel mulai bangun 52,15 km jalan provinsi lintasi Gowa hingga Takalar
11 February 2026 7:40 WIB
Terpopuler - Jasa
Lihat Juga
Menkeu Purbaya tambah DAU Rp7,66 triliun untuk THR dan gaji ke-13 guru ASN daerah
29 December 2025 18:40 WIB
PLN UUD Sulselrabar kembali terjunkan 21 personel, pulihkan listrik di Aceh
19 December 2025 18:30 WIB
Menkeu Purbaya: Anggaran penanganan bencana Sumatera tak hambat laju ekonomi
15 December 2025 15:31 WIB