Kemiskinan Sulbar Bertambah Akibat Tingginya Silpa
Jumat, 4 Juli 2014 22:34 WIB
Ilustrasi kemiskinan (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak)
Mamuju (ANTARA Sulbar) - Yayasan Karampuang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, menilai adanya peningkatan angka kemiskinan di wilayah Provinsi Sulawesi Barat, tahun 2014, dimungkinkan akibat tingginya dana Silpa pemerintah yang seharusnya dinikmati masyarakat.
"Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang merilis adanya penambahan angka kemiskinan sudah berbanding lurus dengan banyaknya Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa) tahun 2013, senilai Rp129,25 milyar dari pemprov Sulbar," kata Direktur Yayasan Karampuang, Aditiya Arie Yudistira di Mamuju, Jum`at.
Menurutnya, Silpa pemprov Sulbar ternyata banyak yang diperuntukan untuk belanja langsung Rp503,52 milyar.
Tidak heran kata dia, jika angka kemiskinan yang dirilis BPS telah mengalami peningkatan karena banyaknya belanja langsung yang sejatinya diperuntukkan bagi masyarakat menjadi tidak bisa dimanfaatkan.
Sehingga kata dia, pemprov Sulbar diharapkan lebih cermat dalam mengelola anggaran agar kelak tidak terdapat Silpa yang begitu besar.
"Jika dana bantuan sosial yang diprogramkan pemprov Sulbar tersalurkan dengan baik maka mungkin angka kemiskinan tidak akan mengalami peningkatan dan bahkan bisa jadi angka kemiskinan di daerah kita mengalami penurunan," ungkap Aditiya.
Aditia mengatakan, alokasi anggaran tahun 2013 pemprov Sulbat yang terealisasi sebesar Rp. 1.043,98 triliun lebih diatas 87,76% dari target sebesar Rp 1.189,53 triliun lebih.
"Terhadap jumlah realisasi belanja tahun anggaran 2013 sebesar Rp. 1.0413,98 triliun lebih di peruntukkan untuk belanja tidak langsung sebesar 540,46 milyar lebih dan untuk belanja langsung sebesar 503,52 milyar lebih," katanya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, persentase penduduk miskin di wilayah Sulbar, mengalami peningkatan sebesar 0,04 persen poin dari 12,23 persen pada medio September 2013, kini menjadi 12,27 persen pada Bulan Maret 2014.
"Jumlah penduduk miskin Sulbar pada Maret 2014 sebanyak 153,9 ribu jiwa atau bertambah 2,2 ribu jiwa dibandingkan dengan penduduk miskin pada September 2013 yang berjumlah 151,7 ribu jiwa," kata Kepala BPS Sulbar, Setianto.
Menurutnya, selama satu semester (September 2013 - Maret 2014), jumlah dan persentase penduduk miskin di daerah perkotaan mengalami peningkatan sebesar 2,1 ribu jiwa (0,59 persen poin).
Akan tetapi kata dia, di daerah perdesaan jumlah penduduk miskin mengalami peningkatan sekitar 100 jiwa, namun secara relatif mengalami penurunan sebesar 0,12 persen poin.
"Kontribusi komoditi makanan terhadap garis kemiskinan lebih besar dibandingkan kontribusi komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada Maret 2014, kontribusi garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan sebesar 80,9 persen," jelasnya. Y Alfrin
"Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang merilis adanya penambahan angka kemiskinan sudah berbanding lurus dengan banyaknya Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa) tahun 2013, senilai Rp129,25 milyar dari pemprov Sulbar," kata Direktur Yayasan Karampuang, Aditiya Arie Yudistira di Mamuju, Jum`at.
Menurutnya, Silpa pemprov Sulbar ternyata banyak yang diperuntukan untuk belanja langsung Rp503,52 milyar.
Tidak heran kata dia, jika angka kemiskinan yang dirilis BPS telah mengalami peningkatan karena banyaknya belanja langsung yang sejatinya diperuntukkan bagi masyarakat menjadi tidak bisa dimanfaatkan.
Sehingga kata dia, pemprov Sulbar diharapkan lebih cermat dalam mengelola anggaran agar kelak tidak terdapat Silpa yang begitu besar.
"Jika dana bantuan sosial yang diprogramkan pemprov Sulbar tersalurkan dengan baik maka mungkin angka kemiskinan tidak akan mengalami peningkatan dan bahkan bisa jadi angka kemiskinan di daerah kita mengalami penurunan," ungkap Aditiya.
Aditia mengatakan, alokasi anggaran tahun 2013 pemprov Sulbat yang terealisasi sebesar Rp. 1.043,98 triliun lebih diatas 87,76% dari target sebesar Rp 1.189,53 triliun lebih.
"Terhadap jumlah realisasi belanja tahun anggaran 2013 sebesar Rp. 1.0413,98 triliun lebih di peruntukkan untuk belanja tidak langsung sebesar 540,46 milyar lebih dan untuk belanja langsung sebesar 503,52 milyar lebih," katanya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, persentase penduduk miskin di wilayah Sulbar, mengalami peningkatan sebesar 0,04 persen poin dari 12,23 persen pada medio September 2013, kini menjadi 12,27 persen pada Bulan Maret 2014.
"Jumlah penduduk miskin Sulbar pada Maret 2014 sebanyak 153,9 ribu jiwa atau bertambah 2,2 ribu jiwa dibandingkan dengan penduduk miskin pada September 2013 yang berjumlah 151,7 ribu jiwa," kata Kepala BPS Sulbar, Setianto.
Menurutnya, selama satu semester (September 2013 - Maret 2014), jumlah dan persentase penduduk miskin di daerah perkotaan mengalami peningkatan sebesar 2,1 ribu jiwa (0,59 persen poin).
Akan tetapi kata dia, di daerah perdesaan jumlah penduduk miskin mengalami peningkatan sekitar 100 jiwa, namun secara relatif mengalami penurunan sebesar 0,12 persen poin.
"Kontribusi komoditi makanan terhadap garis kemiskinan lebih besar dibandingkan kontribusi komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada Maret 2014, kontribusi garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan sebesar 80,9 persen," jelasnya. Y Alfrin
Pewarta : Aco Ahmad
Editor : Daniel
Copyright © ANTARA 2026