Logo Header Antaranews Makassar

Penjabat gubernur bersihkan benda pusaka Kerajaan Wajo

Rabu, 9 Mei 2018 15:44 WIB
Image Print
Penjabat Gubernur Sulawesi Selatan Soni Sumarsono (tiga kanan) menyaksikan prosesi pemindahan benda pusaka pusaka di Gedung Wecudai, Kompleks Rumah Jabatan Bupati Wajo, Selasa (8/5). (FOTO/Humas Pemprov Sulsel)

Makassar (Antaranews Sulsel) - Penjabat Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Soni Sumarsono mendapat kehormatan untuk membersihkan benda pusaka La Tungke Palipu pada acara Mattompang atau pencucian benda pusaka Kerajaan Wajo di Kabupaten Wajo, Sulsel, Rabu.

"Mattompang adalah sebuah bentuk perlakuan perawatan terhadap benda pusaka kerajaan. Adapun tujuan Mattompang untuk membersihkan karat pada bilah pusaka untuk memunculkan pamor pada bilah pusaka," kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Wajo Andi Darmawangsa di sela pelaksanaan acara tersebut.

Dalam ritual tersebut, dengan hati-hati Soni Sumarsono melakukan perawatan dengan cara meneteskan air jeruk dan membasahi permukaan bilah pusaka, kemudian mengusapkan pada bilah pusaka secara berulang kali hingga bersih.

Jeruk yang digunakan dalam proses Mattompang biasanya jeruk nipis (lemo kopasa) atau jeruk (lemo) pattompang yang ukurannya besar. Perasan air jeruk mengandung zat asam yang mampu mengikat senyawa karat tanpa merusak permukaan bilah.

Selain alami tidak merusak. Penggunaan perasan air jeruk juga menghasilkan aroma yang harum pada bilah pusaka.

Manfaat Mattompang adalah bilah pusaka lebih terawat dan tahan lama. Memunculkan nilai estetika pada bilah pusaka dan sebagai media silaturahmi dalam komunitas tertentu.

Penggunaan dupa juga dihadirkan pada proses tompang yang merupakan bagian dari proses pemanasan (I Rellang) agar permukaan bilah benar-benar kering sehingga tidak cepat berkarat setelah ditompang.

Tradisi Mattompang dilakukan sebagai bentuk penghargaan terhadap warisan leluhur sekaligus sebagai perekat dalam rumpun keluarga pemilik pusaka yang ditompang.

Adapun benda identifikasi pusaka yang dibersihkan adalah La Tungke Palipu berupa sapukala (sapu rata) dengan motif/tanda/ Pamor Lappa Paria, Mabunga Fejje, Ure Tuwo, Mattimpa Laja, Mallaso Ancale, Maddaung Ase.

Tatarapeng (keris) terbuat dari emas seberat 215 gram, Wanua (sarung) terdiri dari 11 biji batu mulia, Pangulu (gagang) berhiaskan 21 Batu Mulia

Selain Pusaka La Tungke Palipu, pada acara tersebut juga dihadirkan pusaka keris La Makkarateng Dg Mareppa, satu buah Tombak dari Kerajaan Kutai Kartanegara, satu pasang Salapu dan Petta Ranneng, satu buah Tappi Lamba Asera dan satu buah Kawali Malela.



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026