
Tanaman Jarak di Mamuju Terlantar

Mamuju (ANTARA Sulsel) - Tanaman jarak yang dikembangkan petani pada empat Desa di Kecamatan Tapalang Barat sekitar 30 kilometer dari Kota Mamuju ibukota Sulawesi Barat (Sulbar) terlantar akibat tidak mendapatkan pasar yang jelas.
Salah seorang petani jarak di kecamatan Tapalang Barat, Muchtar, Minggu, mengatakan, tanaman jarak yang banyak dikembangkan petani di Kecamatan Tapalang Barat terdapat di empat Desa masing-masing Desa, Pasabu, Labuang Rano, Dungkait, dan Desa Lebani.
Ia mengatakan, tanaman jarak petani di kecamatan Tapalang Barat tersebut yang mencapai ratusan hektaredan sudah sering kali berbuah sejak ditanam tiga tahun terakhir.
Menurut dia, tanaman tersebut awalnya merupakan program pemerintah yang dicanangkan Bupati Mamuju, Drs Suhardi Duka MM sejak 2006, dengan memberikan bantuan bibit jarak kepada petani di Kecamatan Tapalang Barat.
"Tanaman jarak yang dikembangkan tersebut sebagai langkah pemerintah untuk mengantisipasi krisis BBM yang terjadi saat itu, karena tanaman jarakt diyakini mampu menghasilkan energi pengganti BBM,"ujarnya.
Namun kata dia, tanaman tersebut ternyata tidak dimanfaatkan oleh pemerintah untuk diolah menjadi energi pengganti BBM sehingga tanaman yang sudah dikembangkan petani tersebut terbengkalai dan terlantar.
"Tanaman jarak yang jumlahnya mencapai ratusan hekatare tersebut kini sudah terlantar, dan jika tanaman berbuah, buahnya hanya dibuang percuma para petani,"ujarnya.
Ia mengatakan, sejumlah petani yang mengembangkan tanaman jarak tersebut kebingungan untuk mencari pasaran karena tanaman tersebut tidak bisa dikomsumsi sebagai bahan makanan.
Oleh karena itu, ia meminta agar pemerintah di wilayah itu mencarikan solusi petani jarak di kecamatan Tapalang Barat dengan mencari pasaran bagi tanaman jarak petani di wilayah itu.
"Sayang tanaman jarak di Tapalang Barat ini harus dibuang percuma karena sebelumnya telah menguras tenaga petani untuk mengembangkan tanaman ini,"ujarnya.
(T.PK-MFH/S016)
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
