
Pasar Bebas Ancam Pedagang Beras Antarpulau

Makassar (ANTARA Sulsel) - Pasar bebas ASEAN dan Cina (ASEAN China Free Trade Area) yang berawal 2010 mengancam pedagang beras antarpulau di Sulawesi Selatan.
"Kami khawatir dengan pasar bebas tersebut, peluang pasar beras antarpulau dari Sulsel ke daerah lainnya akan diisi oleh pasar bebas," kata salah seorang pedagang beras antarpulau H Thalib di Kota Makassar, Minggu.
Menurut dia, pedagang Sulsel akan kehilangan peluang pasar antarpulau beras rata-rata 650.000 ton setiap tahun di Kawasan Timur Indonesia (KTI), karena beras impor dari negara tetangga akan merambah pangsa pasar tersebut.
Dia mengatakan, kalau selama ini Sulsel bisa mengantarpulaukan beras dari pelabuhan-pelabuhan utama ke berbagai daerah di KTI dari 650.000 ton hingga satu juta ton per tahun, tentu persaingan pasar menjadi semakin ketat jika beras impor masuk di wilayah itu.
Provinsi Sulsel selama ini yang dikenal sebagai produsen beras cukup penting di Indonesia, karena menjadi pemasok utama beras ke berbagai daerah seperti di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara yang masih kekurangan pangan, khususnya beras.
Sementara itu, salah seorang petani di Kabupaten Maros, Abdul Wahid mengatakan, petani cukup menikmati harga yang relatif baik dari pedagang pengumpul pada saat musim tanam, karena harga beras lebih tinggi dibanding pada saat musim panen.
"Sekarang saja harga beras di tingkat penggilingan sudah mencapai Rp5.100 per kilogram (kg), tapi kalau beras luar masuk misalnya dari Vietnam atau Thailand, tentu harga produksi petani akan terancam jatuh," katanya.
Berkaitan dengan hal tersebut, Wahid yang juga Ketua Kelompok Tani Toddopuli, Maros, berharap agar pemerintah dapat melindungi produksi petani dari perdagangan bebas ini.
"Kepada siapa lagi kami meminta perlindungan, kalau bukan pemerintah. Jika itu tidak dilakukan, maka tingkat kesejahteraan petani akan semakin terpuruk, karena harga saprodi terus naik, sementara harga jual produksi tidak mampu bersaing dengan beras luar yang menjanjikan harga murah," ujarnya.
(T.S036/003)
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
