Logo Header Antaranews Makassar

Pemasaran udang Vaname di Aceh Barat tembus ke pasar

Minggu, 7 Juli 2019 18:26 WIB
Image Print
Pekerja menyortir udang vaname (Litopenaeus Vannamei) saat panen di Desa Suak Geudubang, Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Sabtu (6/7/2019). Para pengusaha udang di kawasan itu sangat mengharapkan bantuan Pemerintah untuk mendongkrak harga jual udang vaname agar bisa meningkatkan produksi udang dan memperluas area tambak khususnya di daerah pesisir. (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

Meulaboh (ANTARA) - Budidaya udang Vaname (Litopenaeus Vannamei) yang kini mulai dikembangkan oleh kalangan masyarakat di Kabupaten Aceh Barat, sudah berhasil menembus pasar domestik maupun mancanegara.

"Kami sangat bersyukur karena dengan membudidaya udang Vaname sudah berhasil menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat, dan mengangkat nama Aceh Barat dalam pengembangan budidaya udang," kata Amiruddin seorang pengusaha udang di Aceh Barat kepada Antara, Minggu di Meulaboh.

Menurutnya, setiap pekannya para petani di daerah itu mampu menjual udang tersebut ke pasar dalam negeri dan luar negeri mencapai 5-10 ton guna memenuhi kebutuhan konsumsi udang termasuk di pasar internasional.

Udang tersebut selama ini dikirim ke Kota Medan, Sumatera Utara dan kemudian diekspor ke sejumlah negara di Asean termasuk negara Tiongkok maupun negara lainnya.

Namun, karena rendahnya harga jual udang segar yang saat ini turun menjadi Rp40 ribu per kilogram, membuat kalangan pengusaha dan masyarakat mengeluh karena biaya untuk melakukan budidaya udang tersebut membutuhkan modal yang tidak sedikit.

"Kami berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga jual udang di pasar domestik dan internasional, sehingga petambak tidak ikut dirugikan," tambah Amiruddin.

Ia mengakui, saat ini setiap bulannya petambak di Aceh Barat mampu memanen udang vaname paling sedikit sekitar 20 ton setiap bulannya dengan masa panen udang setiap 15 hari sekali.

Pengembangan usaha tersebut juga telah mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar karena sebagian besar warga lokal turut dilibatkan sebagai pekerja di lokasi tambak, jelasnya.



Pewarta :
Editor: Suriani Mappong
COPYRIGHT © ANTARA 2026