
Penyerapan Beras Sulsel Harus Dioptimalkan

Makassar (ANTARA News) - Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoesa mendesak seluruh Kadivre Bulog se-Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah dan Papua mengoptimalkan penyerapan beras di tingkat petani.
Dirut Perum Bulog mengatakan itu saat menghadiri Rapat koordinasi Gabah dan Beras Dalam Negeri Tahun 2010 yang di Makassar, Kamis (8/4).
Menurut Sutarto realisasi beras hingga 7 April lalu mengalami penurunan yakni hanya mencapai 268.277 ton atau hanya 26 persen, jika dibandingkan periode sama 2009 lalu realisasi itu mampu mencapai 1.039.343 ton.
Dia mengaku, masa panen yang singkat selama dua periode akibat kemarau panjang yang melanda beberapa daerah yang merupakan sentra penghasil beras nasional.
"Bulog saat ini harus bersatu, tidak boleh ada yang terpisahkan. Bulog di daerah harus lebih banyak melakukan pendekatan dengan petani dan mitra kerja Bulog. Itu komitmen kita." tegasnya.
Dia mengharapkan, pendapatan petani seharusnya bisa disamakan dengan pendapatan yang diperoleh mitra petani, dengan mengoptimalkan koordinasi baik internal maupun eksternal kepada para petani.
Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Numang dalam kesempatan itu mengharapkan Bulog bisa memperbesar penyerapan beras di tingkat petani, mengingat Sulsel mempu memenuhi stok beras nasional selama ini.
"Kita harapkan ada kepastian harga termasuk kepastian Bulog untuk membeli beras Sulsel," jelas dia.
Dalam acara rakor juga dilakukan penandatanganan fakta integritas oleh seluruh Kadivre Bulog mulai dari Sulsel, Sulteng, Papua dan semua Kasubag Bulog se Sulsel yang disaksikan Wagub Sulsel.
Divre Bulog Sulsel melaporkan penyerapan beras petani masih terbatas 500 - 1.000 ton per hari, jumlah itu diakui berkurang dari tahun sebelumnya yang mampu mencapai 9.600 ton per hari.
"Ini disebabkan mundurnya masa tanam, dibanding tahun 2009 lalu. Namun kami tetap berharap puncaknya pada bulan Mei-Juni mendatang. (T.KR-HK/S016)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
