Logo Header Antaranews Makassar

PWI Klarifikasi Program Pendidikan dan Kesehatan Gratis

Senin, 4 Oktober 2010 14:51 WIB
Image Print

Makassar (ANTARA News) - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan selama lima hari ke depan akan melakukan klarifikasi pelaksanaan program pendidikan dan kesehatan gratis Pemerintah Provinsi Sulsel di 16 kabupaten dan kota.

Kegiatan yang dinamai Safari Jurnalistik ini diikuti 50 wartawan dan fotografer dari berbagai media dan dikerjasamakan dengan Pemprov Sulsel, kata Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo di Makassar, Senin.

Menurut dia, kegiatan ini mengarahkan para peserta mempertanyakan anggaran pendidikan dan kesehatan gratis yang dialokasikan dalam APBD pemerintah kabupaten dan kota.

"Jangan hanya gubernur yang dievaluasi tapi semuanya. Pertanyakan alokasi anggaran pendidikan dalam APBD untuk pendidikan apakah sudah tepat 20 persen," ujarnya.

Selain itu, wartawan jug akan melakukan juga klarifikasi kinerja pemerintah lainnya bukan hanya pada program pendidikan dan kesehatan gratis.

Program pendidikan dan kesehatan gratis adalah bagian dari pembangunan yang sebenarnya. Pembangunan bukan fisik, kalau pembangunan fisik ada uang siapapun juga bisa, katanya.

Membangun pemerintahan yang baik, lanjutnya, adalah pemenuhan kebutuhan rakyat pada tingkat dasar dan membangun iklim investasi yang kondusif.

"Membangun ikon bahwa sulsel adalah titik pembangunan ekonomi dan kemajuan nasional itu baru pembangunan," katanya.

Untuk pembangunan fisik, katanya, jangan tanya pada gubernur. "Fisiknya bukan gubernur, tapi pemerintah kabupaten dan kota, kalau tidak nanti bisa tumpang tindih," katanya.

Sulsel bercita-cita ingin menjadi pusat pendidikan dengan sejumlah kampus yang akan dibangun yaitu IPDN, Politeknik Ilmu Pelayaran, Sekolah Penerbangan.

Ia juga berharap tahun ini ada 500 doktor yang Sulsel miliki melalui program beasiswa doktoral Sulsel.

Pendidikan gratis hanya merupakan simbol program tersebut sebenarnya lahir dari amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

"Saya tidak mendengar lagi ada ibu-ibu yang ke pegadaian jelang penerimaan siswa baru. Sebenarnya kata gratis lebih tepat digantikan dengan kata terjangkau atau lainnya," jelasnya.

Ia mengakui, masih banyak kekurangan dalam pelaksanaan kedua program tersebut dan masih membutuhkan penegasan-penegasan. (T.KR-RY/S019)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026