Logo Header Antaranews Makassar

SM Palu Sulit Deteksi Puting Beliung

Jumat, 6 Februari 2009 07:45 WIB
Image Print

Palu (ANTARA Sulsel) - Angin puting beliung yang disebabkan awan cumulunimbus (cb) yang melanda sejumlah desa di Kecamatan Sinui, Kabupaten Parigi Moutong (Parmout) Kamis (5/2) siang sulit dipredisi dan didektesi secara awal.

"Kami sulit mendektesi lebih awal karena keterbatasan sarana dan prasana yang ada belum memadai," kata Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi (SM) Bandara Mutiara Palu, Achadi S.R, Jumat.

Ia mengatakan, fenomena alam seperti itu baru bisa diprediksi dan didektesi awal dengan menggunakan radar sementara alat dektesi kondisi alam yang ada di Sulteng saat ini baru satelit saja.

Karena itu, peristiwa-peristiwa alam seperti angin puting beliung yang memporak-porandakan ratusan rumah penduduk dan fasilitas umum lima desa di Kabupaten Parigi Moutong kemarin tidak terdektesi secara awal.

Namun, katanya, dari hasil analisis dan foto satelit diperkirakan kecepatan angin yang terjadi di desa Tororanga, Marantale, Avolua, Tandiagi, dan Siloyo berkisar 60 sampai 100 km/jam.

"Angin itu terbilang sangat kencang karena banyak bangnan yang rusak dan roboh," kata dia.

Menurut dia, jika kekuatan anginnya hanya berkisar 50-60 km/jam, tingkat kerusakan bangunan tidak akan begitu parah.

Penyebab utama terjadinya puting beliung antara lain karena awan cumulunimbus yang membuat 'down-draft' yaitu angin bertiup ke bawah dengan kuat dan keras sekali.

Jenis awan cb hanya terjadi pada wilayah dan daerah yang memiliki karateristik tertentu sesuai dengan topografinya. Khusus di Sulteng tidak semua wilayah bisa terjadi fenomena alam dimaksud.

Kejadian tersebut hanya berpotensi terjadi kembali pada daerah-daerah yang selama ini pernah dilanda angin puting beliung. Karenanya, masyarakat yang tinggal di wilayah/daerah yang pernah diterjang puting beliung tetap waspada, sebab kejadian sama bisa terulang lagi.

Apalagi kondisi cuaca di wilayah Sulteng dalam beberapa hari ke depan ini masih cukup buruk sebagai dampak dari Isober tertutup yakni energi awan yang cukup besar bertiup dari benua Asia dan Australia.

Khusus di Kabupaten Banggai dan Banggai Kepulauan dalam dua hari ke depan ini berpotensi diguyur hujan deras diatas normal dan juga ombak besar bisa mencapai diatas dua meter sehingga perlu mendapat perhatian masyarakat, khususnya nelayan lebih baik menunda melaut.

Daerah lainnya di Sulteng yang juga berpotensi curah hujan tinggi dan ombak besar adalah Bungku, ibukota Kabupaten Morowali. Khusus Kota Palu hari ini berpotensi hujan ringan pada sore hari.
(T.BK03/R007)