Logo Header Antaranews Makassar

Pasca Lebaran, Harga Cabai dan Tomat Bertahan

Kamis, 18 November 2010 08:08 WIB
Image Print
(FOTO ANTARA/Fikri Ali)

Mamuju (ANTARA News) - Pasca lebaran hari raya Idul Adha 1431 hijriyah, harga cabai merah dan tomat yang dijual oleh para pedagang pada dua pasar tradisional di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, masih bertahan tinggi.

Zuraeda (32) salah seorang pedagang di Mamuju, Kamis, mengatakan harga cabai merah tiga hari sebelum Lebaran hingga saat ini masih bertahan.

"Sudah tiga hari terakhir ini harga cabai merah yang dijualkan mulai bergerak naik dari harga biasanya sebesar Rp30.000/kilogram menjadi Rp40.000/kilogram," katanya.

Ia mengatakan, permintaan masyarakat saat hari raya sangat tinggi, sedangkan stok cabai sangat terbatas dari sentra penghasil komoditi cabe dan tomat yang ada di beberapa kabupaten di Sulbar termasuk stok dari provinsi lainnya, juga sangat berkurang.

Demikian halnya dengan harga tomat, kata dia, masih belum bergerak turun yang saat ini harganya mencapai Rp7500/kilogram.

"Sebelum hari raya, harga tomat biasanya hanya Rp5.000/kilogram. Namun, harganya bergejolak sehari sebelum lebaran yang sampai saat ini belum bergerak turun," papar dia.

Menurutnya, hampir semua jenis bumbu-bumbuan yang mengalami kenaikan hingga kini terlihat belum mengalami penurunan harga, meski pun tingkat permintaan oleh konsumen cenderung turun.

Dia menuturkan, harga bumbu-bumbuan seperti merica, lengkuas, kemiri, minyak goreng, gula merah pun juga mengaami lonjakan harga jelang lebaran yang hingga kini bertahan mahal.

Hal senada dikatakan, Warda, salah seorang pedagang di pasar regional Mamuju, membenarkan jika sejumlah harga bumbu-bumbuan masih bertahan tinggi, walaupun tingkat permintaan mulai turun.

Kenaikan harga bumbu-bumbuan tersebut kata dia, tidak merata atau bervariasi mulai naik sepuluh persen, hingga 25 persen.

"Meroketnya harga sejumlah kebutuihan pokok ini terjadi tiga hari sebelum hari raya yang sampai saat ini harganya belum turun," pungkasnya. (T.KR-ACO/I006)



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026