
PKS Miliki Banyak Figur Memimpin Sulsel

Makassar (ANTARA News) - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyatakan figur di setiap provinsi dan kabupaten/kota selalu banyak dan diterima masyarakat, apalagi di Sulawesi Selatan (Sulsel) untuk pencalonan gubernur pada 2013.
"PKS itu punya banyak figur di setiap provinsi dan kabupaten/kota. Sulsel misalnya memiliki banyak figur, tapi hanya tiga di antaranya yang direstui DPP yang siap dicalonkan kursi kosong satu," ujar Ketua Bidang Wilayah Dakwah Sulawesi DPP PKS Najamuddin Marahamid di Makassar, Jumat.
Ia menyebutkan ketiga tokoh dan figur yang dimaksudnya yakni, Thamsil Linrung, Andi Rakhmat dan Andi Akmal Pasluddin.
Selain ketiga figur itu, ada nama seperti Anis Matta yang sudah dikenal di Sulsel dan diterima masyarakat, namun DPP PKS belum merestuinya untuk kembali karena masih dibutuhkannya di tingkat pusat.
Sebelum mereka direstui untuk maju dalam pencalongan Gubernur Sulsel pada 2013 nanti, PKS terlebih dahulu melakukan riset dan survei, apakah peluangnya besar untuk menduduki kursi nomor satu ataukah hanya kursi nomor dua di pemerintahan.
"Kita sering melakukan riset dan survei secara berkala yakni sekitar sekali dalam enam bulan. Tapi kita selalu berfikir realistis, meskipun partai mendorong kursi kosong satu, namun jika realitanya hanya kosong dua yah kita harus menerimanya," katanya.
Menurutnya, kader PKS tidak konsentrasi dalam pencitraan individu dan partai melainkan konsentrasi bekerja untuk bangsa dan rakyat.
Jika semuanya bekerja maksimal, maka dipastikan pencitraan akan selalu ikut. Karena itu, partai berlambang bulan sabit kembar itu tidak fokus pada pencitraan karena jika hanya fokus pada pencitraan maka akan ada waktu dimana masyarakat jenuh.
"Semua kader diminta untuk bekerja maksimal. Pencitraan tetap dilaksanakan tapi itu bukan tujuan utama. Jika partai ini hanya fokus pada pencitraan maka bisa dipastikan partai ini akan jatuh karena tidak ada yang bisa bertahan dengan pencitraan," katanya. (T.KR-MH/S019)
Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
