
Biaya Riset Bio Farma Rp100 Miliar Setahun

Makassar (ANTARA News) - Pemerintah pusat menganggarkan Rp100 miliar per tahunnya untuk PT Bio Farma (Persero) untuk melakukan pengembangan dan riset.
"Pemerintah pusat telah menganggarkan Rp100 miliar per tahunnya untuk melakukan pengembangan dan riset terhadap sejumlah vaksin yang diproduksi Badan Usaha Milik Negara bidang kesehatan ini," ujar Direktur Utama Bio Farma, Iskandar, didampingi Kepala Bagian Public Relation, Lala Nurlaela, di Makassar, Senin.
Ia mengatakan, anggaran Rp100 miliar per tahun yang diberikan pemerintah pusat itu juga untuk kerja sama antara PT Bio Farma dan sejumlah Perguruan Tinggi di Indonesia.
Ia mencontohkan, kerja sama yang dilakukan antara PT Bio Farma dengan Universitas Indonesia (UI) untuk melakukan riset dan memproduksi vaksin untuk memproteksi virus Human Immunodeficiency Virus (HIV).
Kerja sama juga dilakukan dengan Universitas Brawijaya, Malang, dalam melakukan riset dibidang molekuler dan seluler yaitu tentang Imunokontrasepsi dan Diabetes Melitus test kit.
Selain itu pelatihan, pemanfaatan peralatan laboratorium, dan pengembangan vaksin dari hasil penelitian yang selanjutnya akan dikembangkan di PT. Bio Farma.
Dalam kerja sama itu, kelompok peneliti immunologi dan imunokontrasepsi akan menawarkan produk utamanya, di antaranya imunokontrasepsi wanita, diagnostic kit, serta teknologi imunisasi untuk penyakit menular.
"Kerja sama ini juga sekaligus untuk menumbuhkan minat peneliti vaksin Indonesia karena jumlah ilmuwan yang melakukan riset tidak lebih dari dua persen. Karena itu, Bio Farma terus memfasilitasi dan mendorong agar para peneliti vaksin Indonesia lebih intensif lagi melakuka kerjasama riset," katanya.
Selain kedua perguruan tinggi terkemuka itu, salah satu perguruan tinggi terkemuka dari Makassar, Sulawesi Selatan, Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, juga menjajaki melakukan riset dibidang farmasi.
"Sudah banyak perguruan tinggi terkemuka di Indonesia yang kami libatkan dalam upaya mencegah penyakit, memberantas penyakit menular dan mendukung pencapaian Millenium Development Goal's (MDG's) 2015. Salah satu perguruan tinggi itu yang akan kita gandeng nantinya yakni Unhas dibidang kefarmasian," harapnya.
Ditanya produk Biofarma, Iskandar menyebut 10 vaksin yang dihasilkannya telah mendapat pengakuan Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Pengakuan ini memperkuat posisi Bio Farma untuk mengekspor produk ke berbagai negara yang membutuhkan. Saat ini, ada sekitar 200 perusahaan pembuat vaksin di dunia dan hanya 23 perusahaan yang mendapat pengakuan WHO untuk melakukan ekspor.
"Bio Farma Indonesia satu dari 23 perusahaan pembuat vaksin yang sudah melakukan ekspor vaksin ke 110 negara yang umumnya di wilayah Eropa. Perusahaan yang 60 persen pendapatannya berasal dari ekspor tersebut juga merajai 50 persen pasar vaksin polio dunia di bawah bendera Unicef," ucapnya. (T.KR-MH/A027)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
