Logo Header Antaranews Makassar

Polres Gowa Diminta Selidiki Dugaan Sapi Diracun

Selasa, 4 Oktober 2011 17:42 WIB
Image Print
Makassar (ANTARA News) - Polisi Resort Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, diminta turun tangan menyelidiki 39 ekor sapi di Desa Pattalassang, yang diduga diracun oleh oknum untuk kepentingan pedagang menjelang lebaran Idul Fitri lalu.

"Kami sudah lakukan pertemuan dengan Kepala Dinas Peternakan se Sulsel untuk mengantisipasi adanya dugaan sapi yang diracuni dengan votasium. Bupati Gowa sudah menyurat ke Polres setempat untuk turun tangan," kata Kepala Dinas Peternakan Sulsel Murtala Ali di Makassar, Selasa.

Menurut dia, Dinas Peternakan sedang gencar melakukan sosialisasi ke peternak agar mewaspadai hal itu menjelang lebaran Idul Qurban bulan depan

"Kami sudah komunikasikan dengan kabupaten/kota agar dikomunikasikan dengan kepolisian setempat. Ada pengacauan, tetapi itu tidak besar pengaruhnya kepada populasi sapi Sulsel yang jumlahnya satu juta ekor lebih," ucapnya.

Dalam kunjungan kerja Komisi B DPRD Sulsel di Desa Pattalassang 23 September 2011, peternak setempat mencurigai ada kepentingan pedagang karena rata-rata sapi tersebut terpaksa dipotong dan dijual murah menjelang Idul Fitri lalu.

"Kemungkinan keracunan ataukah diracuni, supaya peternak langsung potong dan jual murah, mungkin ada yang lakukan untuk kepentingan dagang. Ini perlu diselidiki. Semua aparat harus saling mendukung," kata Ketua Komisi B DPRD Sulsel, Yusa Rasyid Ali.

Saat menjelang lebaran, lanjut dia, peternak di di dusun Tassili, Bontolebang, Burung-burung, Suwangi, Sangnging-sangnging, dan Marannu terpaksa memotong sapinya karena tidak mau makan, dan kondisinya sangat lemah.

Karena takut mati, para peternak yang umumnya kategori pra sejahtera memotong sapinya untuk dijual kepada pedagang dengan harga murah Rp1,5 juta sampai Rp2 juta per ekor.

Harga tersebut sangat berbeda apabila peternak menjual sapinya sebelum dipotong dengan harga antara Rp5 juta sampai Rp6 juta per ekor.

Yusa meyakini ada motif tertentu dibalik keanehan yang terjadi pada sapi di Pattalassang sebelum lebaran, karena tidak ada indikasi sapi tersebut terkenan virus antraks maupun penyakin lainnya.

Menurut politisi Demokrat ini, sampel darah dan rongga dari sapi yang dipotong telah diuji di laboratorium hewan di Maros, namun tidak ditemukan indikasi penyakin hewan termasuk antraks.

Komisi B melansir, penelitian terakhir yang dilakukan di laboratoriun Unhas menunjukkan sapi-sapi tersebut terkena racun votasium.

"Penting sosialisasi, karena penyebabnya adalah votas. Kepala Dinas harus bergerak dilapangan melakukan sosialisasi ke petani apalagi menjelang Idul Qurban," ucapnya Yusa. (T.pso-099/S016)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026