
Kebijakan Gula Nasional harus Disesuaikan Kebutuhan

Hal tersebut diungkapkan Gubernur menyusul terjadi kenaikan harga gula kristal putih di sejumlah pasar tradisional Makassar, Sulsel hingga 10 persen di tingkat pengecer. Kenaikan harga ini dipicu kelangkaan persediaan.
Dari pantauan di sejumlah pasar tradisional, harga gula berkisar antara Rp12 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram-nya dari harga normal antara Rp9 ribu sampai Rp10 ribu.
Menurut Gubernur, hal ini tidak lagi hanya bisa diselesaikan dengan melakukan operasi pasar di lapangan.
"Sekarang bukan itu, sekarang kebijakan-kebijakan nasional yang harus bisa menyesuaikan kebutuhan kita, bukan masalah lapangan lagi. Logikanya jelas 600 ribu ton dibutuhkan kawasan timur Indonesia sementara kemampuan produksi tidak lebih dari 80 ribu ton pasti saja distorsi kalau kita tidak melakukan infus," jelasnya.
Kondisi ini, kata dia, harus dibicarakan karena pengetatan impor gula yang bersubsidi untuk kepentingan nasional jangan sampai berakibat pada kenaikan harga. "Ini merugikan rakyat, harus dicarikan jalan keluar," katanya.
Fakta di lapangan bahwa persediaan gula nasional yang tidak seimbang dengan kebutuhan harus dilihat sebagai kenyataan.
"Mau atau tidak jangan sampai rakyat kekurangan gula dan harga naik akhirnya memicu yang lain. Itu akan kita coba tindak lanjuti," ujarnya.
Terkait keinginan untuk kembali memperkuat tiga industri gula di Sulsel yakni pabrik gula Takalar serta Arasoe dan Camming, Bone, ia mengatakan, hal tersebut tidaklah mudah karena membutuhkan waktu minimal tiga sampai empat tahun.
"Oleh karena itu kekurangan harus dihitung dari sekarang. Itulah yang dari kemarin saya teriakkan ada keseimbangan-keseimbangan ada yang impor ada yang ekspor. Kalau itu bisa dilakukan tentu rakyat tidak rugi. Bisa dibayangkan kalau kita semua membutuhkan gula dan tiba-tiba gula sangat terbatas harga bisa naik tak terkendali," jelasnya.
Sebelumnya, Sekertaris Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional Seluruh Indonesia (APPTSI) Makassar, Abdul Wahab Tahir menduga kenaikan harga gula terjadi karena ketidakberpihakan Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia (APGETI) pada kepentingan masyarakat untuk pemenuhan gula dengan harga terjangkau.
Kebutuhan gula di Sulsel, mencapai 300 ribu ton sebulan. Namun, kebutuhan tersebut sulit terpenuhi lantaran empat pabrik gula seperti Pabrik Gula Camming, Arasoe di Kabupaten Bone kemudian Pabrik Gula Takalar serta Gorontalo dibawah naungan PT Perkebunan Negara (PTPN) XIV hanya mampu memproduksi gula sekitar 160.000 ton per bulan.
Berdasarkan data Dewan Gula yang pernah diungkapkan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulsel Irman Yasin Limpo, saat ini Sulsel mengalami kekurangan 70 ribu ton gula. Sementara untuk kawasan timur Indonesia mengalami kekurangan hingga 515.000 ton.
Secara nasional hanya Lampung dan Jawa Timur yang mampu mencapai surplus produksi. Namun, kelebihan produksi Lampung dipasok untuk menutupi kekurangan gula Pulau Jawa.
Gula Rafinasi
Gula Rafinasi untuk industri, produksi PT Makassar Tene di Makassar bersama gula sejenis produksi luar Sulawesi Selatan, masih beredar di pasar tradisional provinsi ini untuk komsumsi rumah tangga.
Padahal berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perdagangan dan Perindustrian nomor 527/MPT/KET/9/2004 disebutkan peredaran gula rafinasi hanya diperuntukkan bagi industri makanan dan minuman, termasuk farmasi, dan tidak diperuntukkan bagi rumah tangga.
Pemerintah Kota Makassar dan Sulsel dinilai banyak kalangan lalai dalam hal pengawasan peredaran gula rafinasi di sejumlah pasar tradisional.
Salah seorang pedagang, Hj Asnia di pasar terong Makassar mengaku, gula yang dipasarkan menjadi kebutuhan rumah tangga tidak jarang dalam sehari bisa menghabiskan 20 karung dengan isi per karungnya seberat 50 kilogram. Padahal, gula tersebut diperuntukkan untuk industri, namun kenyataannya digunakan untuk pemakaian rumah tangga.
Abdul Aziz Jaya, pedagang gula di pasar Pabaeng-baeng mengatakan, gula rafinasi sangat laris dipasaran, meskipun dirinya mengetahui gula rafinasi hanya untuk digunakan di kalangan industri menengah.
"Permintaan tinggi dan lebih banyak konsumen membeli gula ini karena harga lebih murah dan terjangkau," katanya.(T.KR-RY/F003)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
