Logo Header Antaranews Makassar

Unhas akan "Fair" Kaji PLTA Karama

Sabtu, 4 Februari 2012 22:24 WIB
Image Print
MAMUJU, SULBAR - Rektor Unhas Idrus A Paturusi (Kanan) berdialog dengan pimpinan pengunjuk rasa Calvin Kalambo (kiri) anggota DPRD Sulbar asal Kec.Kalumpang, yang menolak pembangunan PLTA Karama, Sabtu (4/2). (FOTO ANTARA/Humas Unhas)
Mamuju (ANTARA News) - Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar akan "fair" dan independen dalam mengkaji berbagai aspek rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga air (PLTA) Karama di Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat.

Sebagai lembaga akademik. Kewajiban Unhas melaksanakan tugas pengkajian dengan independen dan tetap memperhatikan aspirasi masyarakat setempat dalam mempersiapkan pembangunan PLTA dengan kapasitas 3.200 megawatt (MW) tersebut, kata Rektor Unhas Prof Dr Idrus A Paturusi, ketika bertemu muka dengan Calvin Kalambo, anggota DPRD Sulbar asal Kecamatan Kalumpang yang ikut berunjuk rasa menentang kehadiran PLTA Karama di Kecamatan Kalumpang dan Bonehau Kabupaten Mamuju, Sabtu.

"Untuk apa Unhas jauh-jauh datang ke Mamuju, Sulbar, jika tidak melaksanakan tugas yang dipercayakan dengan mendengar aspirasi masyarakat," kata Rektor Unhas Idrus Paturusi.

Sehari sebelumnya (3/2), Gubernur Sulawesi Barat Anwar Adnan Saleh dan Rektor Unhas Idrus Paturusi, di Kantor Gubernur Sulbar di Mamuju, menandatangani nota kesepahaman perihal pelaksanaan pengkajian PLTA Karama tersebut.

Pendemo menyatakan menolak pembangunan PLTA Karama jika itu menyengsarakan rakyat dan membuat mereka tergusur dari tanah kelahirannya.

Rektor Unhas dan Wakil Rektor IV Unhas Dwia Aries Tina Pulubuhu serta anggota rombonganya, menyempatkan diri bertemu dengan pimpinan pengunjuk rasa, Calvin Kalambo sembari menggendong anaknya dengan santun menyampaikan kepada Rektor Unhas harapan masyarakat Kalumpang Boneharu.

"Kami sebagai pemilik tanah tidak pernah dilibatkan dalam rencana pembangunan PLTA ini," kata Calvin Kalambo.

Rektor yang sudah terbiasa menghadapi pengunjuk rasa di kampus Unhas Makassar menyampaikan terima kasih atas informasi yang disampaikan Calvin Kalambo. Bahkan Rektor mengajak Calvin agar ikut membantu Unhas dalam mengkaji rencana pembangunan PLTA ini agar masyarakat setempat tidak dirugikan.

Pertemuan yang sangat tidak diduga antara Rektor Unhas dengan pimpinan pengunjuk rasa penolak PLTA Karama tersebut akan menjadi bagian penting bagi Unhas dalam melaksanakan persiapan pekerjaan mengkaji dampak positif-negatif kehadiran PLTA tersebut dan mencari jalan keluar terbaik.

Bupati Mamuju Drs Suhardi Duka pada acara penandatanganan kerja sama itu mengatakan, muncul tiga kelompok masyarakat di Kecamatan Kalumpang dan Bonehau menyikapi kehadiran PLTA Karama ini.

Kelompok pertama, menolak, kelompok kedua menerima dan kelompok ketiga, tidak memberikan pendapat, menolak atau menerima.

"Kami mengharapkan agar pengkajian PLTA Karama ini dilaksanakan secara objektif dengan melibatkan berbagai pihak," kata Bupati Suhardi Duka.

Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh mengakui, pembangunan PLTA Karama ini kelak akan mencakup sembilan desa dengan 8.000 jiwa penduduk pada dua kecamatan tersebut. Pemprov Sulbar melibatkan Unhas, karena ingin kegiatan awal pembangunan PLTA Karama ini berjalan secara terbuka demi kesejahteraan rakyat.

"Yang terpenting, melalui kajian ini tidak ada dusta di antara kita," kata Gubernur pada acara yang dihadiri Ketua DPRD Sulbar Drs Hamzah Hapati Hasan, Wakil Gubernur Sulbar Aladin S. Mengga, Sekda Provinsi Sulbar Drs H. Ismail Zainuddin, M.Pd, Bupati Mamasa, Drs M. Ramlan, para Kepala SKPD Sulbar, tokoh masyarakat, dan sejumlah organisasi LSM.

Ketua Tim Pengkajian PLTA Karama Unhas Prof Dr Ananto Yudono, MSc, mengatakan, kebijakan yang dihasilkan timnya kelak adalah berdasarkan keinginan masyarakat. Tim akan turun menanyakan langsung kepada masyarakat dan dalam pelaksanaan survei melibatkan masyarakat dan sekitar 80 persen tenaga lokal.

Para surveyor lokal ini akan dilatih oleh surveyor senior dari Unhas. Tim survei Unhas hanya 12 persen.

"Kelompok yang berunjuk rasa di depan Kantor Gubernur pun akan diajak terlibat survei mempersiapkan PLTA Karama ini," kata Ananto Yudono.

Pakar Sosial Budaya Unhas Prof Dr HM. Tahir Kasnawi, SU menegaskan, dalam melaksanakan pengkajiannya, Unhas akan menjaring aspirasi masyarakat guna mencoba memahami permasalahan dari berbagai aspek. Mulai dari masalah sosial budaya, sosial demografis, sosial ekonomi, dan persepsi masyarakat. Aspek sosial budaya tentu saja akan sangat subyektif. Oleh karena itu diperlukan investigasi yang mendalam.

Dalam aspek sosial budaya ini, kata Tahir Kasnawi, setidak-tidaknya ada tiga unsur penting yang dikaji. Pertama, urgensi proyek yang nantinya akan banyak disampaikan dalam proses sosialisasi kepada rakyat. Kedua, dampak sosial budaya yang harus dilihat dari sisi positifnya, sehingga diperlukan audit sosial. Ketiga, potensi masyarakat lokal yang akan berpartisipasi, baik ketika proyek berlangsung maupun setelah selesai.

"Intinya adalah bagaimana PLTA Karama ini bermanfaat bagi masyarakat berdasarkan pendekatan sosial, budaya, dan ekonomi," ujar Tahir Kasnawi.

Mempersiapkan pengkajian PLTA Karama ini, Prof Ananto Yudono sudah mempersiapkan satu tim lintas disiplin di Unhas, sehingga hasil kajiannya kelak betul-betul dapat dipertanggungjawabkan secara independen dan akademik. (T.KR-DF/F003)



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026