Logo Header Antaranews Makassar

BP-DAS Diminta Selamatkan Lingkungan dari Kerusakan

Senin, 18 Mei 2009 00:14 WIB
Image Print

Gowa, Sulsel (ANTARA Sulsel) - Balai Penyuluhan Daerah Aliran Sungai (BP-DAS) diminta agar lingkungan harus diselamatkan dari kerusakan terutama sepanjang areal Dam Bili-Bili.

"Semua instansi terkait termasuk diantaranya pihak BP-DAS dapat mencari solusi dan pemikiran agar Dam Bili-bili harus tetap terjaga dengan baik," ujar Kadis Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Gowa, Djamaluddin Maknun, Senin.

Bukan hanya instansi pemerintah, pihak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berhubungan langsung dengan lingkungan, juga diminta turut mengawasi kelestarian lingkungan terutama dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab yang sengaja ingin merusak lingkungan.

"Dari dulu memang kita libatkan LSM untuk memantau wilayah-wilayah yang rawan terjadi kerusakan lingkungan. Termasuk mengawasi adanya oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab yang sengaja merusak lingkungan termasuk hutan," tandasnya.

Sebelumnya, pemerintah telah bekerjasama BP-DAS Jeneberang Walanae melaksanakan Bimbingan Teknik (Bintek) bagi seluruh lapisan masyarakat yang dihadiri pihak Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan, Dinas Pertambangan dan Energi, Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air, Lingkungan Hidup dan LSM.

Ia berharap dengan bintek itu maka muncul upaya serius untuk memelihara lingkungan di sepanjang Dam Bili-Bili.

Karena itu, kepada seluruh lapisan masayarakat agar menyampaikan pemikirannya menyangkut pengembangan Daerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang ke depan.

Wakil Pimpinan Pengembangan DAS Jeneberang Walanae, Agus Pambudi menjelaskan, bintek ini sangat penting karena kerusakan lingkungan di DAS dari hari ke hari yang semakin memprihatinkan sehingga memunculkan bencana alam banjir, tanah longsor dan kekeringan.

Menurutnya, kerusakan DAS dipercepat oleh peningkatan pemanfaatan sumber daya alam sebagai akibat dari pertambahan penduduk dan perkembangan ekonomi, konflik kepentingan dan kurang keterpaduan antar sektor serta antar hulu-tengah-hilir.

Upaya-upaya untuk memperbaiki kondisi DAS sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1970-an melalui program penyelamatan hutan, tanah dan air (PPHTA) yang didukung Inpres Penghijauan dan Reboisasi.

Kemudian dilanjutkan dengan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL), Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GNKPA) dan Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK).

Ia menjelaskan, tujuan lain bintek adalah penanggulangan bencana alam dan banjir, tanah longsor, dan kekeringan secara terpadu, transparan dan partisipatif serta bagaimana DAS bisa memberikan manfaat sosial ekonomi yang nyata bagi masyarakat.
(T.PK-MH/B013)