
FKIK Unismuh sinkronisasikan program untuk tanggulangi stunting

Makassar (ANTARA) -
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah melakukan sinkronisasi program untuk menanggulangi stunting di Sulawesi Selatan.
"Berbekal kemampuan SDM, kami siap melakukan sinkronisasi program, agar dapat disinergikan untuk penanggulangan stunting di Sulsel," kata Dekan FKIK Unismuh Prof Suryani As’ad di Makassar, Rabu.
Dia mengatakan, FKIK Unismuh terlibat membantu pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dengan berkolaborasi dalam membantu penurunan angka stunting, salah satunya di Kabupaten Sinjai.
Bentuk partisipasi FKIK Unismuh, lanjut dia, bisa dalam bentuk penyuluhan penyadaran masyarakat untuk mengonsumsi makanan bergizi, yang sebenarnya cukup melimpah di daerah.
Keterlibatan Unismuh dalam membantu pemerintah di daerah dalam penanggulangan stunting ini, erat kaitannya dengan amanah yang diemban perguruan tinggi.
"Perguruan tinggi memiliki kewajiban menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat," katanya.
Dia mengatakan, FKIK memiliki 5 Prodi, yakni S1 Kedokteran, Pendidikan Profesi Dokter, S1 Farmasi, D3 Kebidanan, dan D3 Keperawatan. Tentu kelima prodi tersebut siap bekerjasama sesuai kebutuhan masyarakat.
Kelima Prodi tersebut dianggap menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan sangat baik. Hal itu terbukti, misalnya, dengan raihan akreditasi A yang dicapai Prodi S1 Kedokteran, dan Program Profesi Dokter dari Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes).
Berkaitan dengan hal tersebut, kata Suryani, pihaknya telah memiliki kerjasama dengan BKKBN Perwakilan Provinsi Sulsel, untuk membantu mengatasi stunting di lapangan.
Sementara itu, Wakil Dekan I FKIK Unismuh dr Andi Weri Sompa mengatakan, FKIK Unismuh terbuka bekerjasama untuk penguatan sektor kesehatan, selain persoalan stunting.
Hal ini sejalan visi FKIK Unismuh yakni menjadi FKIK terkemuka pada tahun 2025 yang menghasilkan lulusan Islami, terpercaya, dan unggul dalam bidang kegawatdaruratan.
Dia mengatakan, ada benang merah antara stunting dan kegawatdaruratan. Pada kasus dehidrasi dan anemia berat, sangat mudah terjadi kegawatdaruratan. Jadi selain sosialisasi stunting, juga bisa menyosialisasikan soal kegawatdaruratan.
Pewarta : Suriani Mappong
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
