
Disnakeswan: PMK berdampak pada ekspor hewan ternak dari Sulsel

Makassar (ANTARA) - Dinas Peternakan Sulsel dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Sulawesi Selatan menyatakan penyebaran virus Penyakit Gigi dan Mulut (PMK) berdampak pada ekspor jutaan hewan ternak ke beberapa negara konsumtif.
"Penularannya sangat cepat, dan dampak ekonomi sangat besar bila terjadi di wilayah kita. Maka potensi ekspor pada produk ternak ke negara bebas bisa menyebabkan kerugian ekonomi di Sulsel diperkirakan Rp9 triliun lebih per tahun" ujar Kepala Disnakkeswan Sulsel Nurlina Saking di Makassar, Rabu.
Potensi kerugian ekonomi terhadap ternak dampak dari PMK tersebut, kata dia, penurunan produksi, kematian ternak, harga jual murah, pelarangan atau pembatasan ekspor hewan ternak serta produk ternak dan turunannya seperti olahan daging, susu, kulit dan produk sampingan ternak.
Selain itu, dari dukungan pendapatan paling rendah terhadap ternak apabila wabah PMK masih berlangsung maka harga jual ternak rata-rata menurun dengan catatan Sapi Rp5 juta, kambing Rp3 juta, babi Rp2,5 juta hingga Rp3 jutaan.
Selain itu, penularan virus PMK bisa mengancam populasi hewan ternak dan Sulsel merupakan daerah tiga besar populasi ternak setelah Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat.
Berdasarkan data jumlah sapi ternak di 24 kabupaten kota tahun 2022, jumlah Sapi Perah sebanyak 1.147 ekor, Sapi Potong 1.443.297 ekor, Kerbau 115.482 ekor, Kambing 818.830 ekor, Domba 859 ekor dan Babi 966.373 ekor.
"Itulah populasi yang berisiko tertular. Sudah ada kasus pertama di temukan di Kabupaten Tana Toraja pada 28 Juni dan disusul Toraja Utara pada 1 Juli," katanya.
Kemudian berlanjut di Kota Makassar 8 Juli, Bone dan Bantaeng 10 Juli, Jeneponto dan Gowa 12 Juli, Takalar 14 Juli dan Enrekang 15 Juli. Artinya, dalam kurun waktu dua minggu ada sembilan kabupaten kota di Sulsel terjadi penularan PMK.
Data perkembangan Disnakkeswan Sulsel per 17 Juli 2022 untuk kasus PMK pada sembilan kabupaten kota yang tertular, tercatat ada 26 kecamatan, dengan tersebar di 41 desa, kelurahan. Hewan ternak sakit terinfeksi 520 ekor, potong bersyarat 14 ekor, mati sembilan ekor, sembuh 44 ekor dan tersisa kasus (karantina) 435 ekor.
Guna mengantisipasi penularan, langkah kewaspadaan dini dan pengendalian telah dilakukan. Selain itu, telah dikeluarkan Surat Keputusan Gubernur Sulsel tentang kewaspadaan penutupan lalintas hewan ke semua kabupaten kota mewaspadai masuknya PMK.
Selanjutnya, dibentuk Satuan Tugas (Satgas) Provinsi Sulsel dari perwakilan Forkopimda, dan membentuk Tim Satgas PMK dan Crisis Center kewaspadaan dini PMK, serta layanan hot line disediakan Disnakkeswan termasuk koordinasi dengan pihak pemerintah kabupaten kota.
Upaya pencegahan, tambah Nurlina, telah mendistribusikan obat-obatan untuk mencegah infeksi sekunder, karena ada luka di mulut dan kaki ternak. Sejauh ini, virus PMK belum ada obatnya. Langkah disinfeksi, bantuan vaksin dari Kementerian Pertanian sebanyak 15 ribu dosis juga sudah disalurkan ke wilayah zona merah.
Pewarta : M Darwin Fatir
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
