
Tim JK-Win Lancarkan Serangan Darat dan Udara

Mamuju (ANTARA Sulsel) - Tim pemenangan pasangan Capres dan Cawapres pasangan Jusuf Kalla dan Wiranto (JK-Win), akan melancarkan serangan darat dan udara untuk memenangkan pasangannya dalam pemilihan presiden (Pilpres) di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar).
Wakil sekertaris tim pemenangan JK-WIN, Ibnu Munzir pada saat melakukan pertemuan silaturahmi dengan relawan JK-WIN Garuda Nusantara di Provinsi Sulbar, Minggu, mengatakan, taktik dan strategi yang akan dimainkan JK-Win dalam Pilpres mendatang di Sulbar akan dilancarkan dari dua arah serangan.
Serangan tersebut akan dilancarkan dari udara dan darat, serangan ini akan efektif untuk memenangkan JK-Win di Sulbar dengan target sekitar 70 persen suara, kata mantan anggota DPR-RI tiga periode ini.
Ibnu Munzir yang sekretaris umum relawan Garuda Nusantara ini mengatakan, taktik tersebut juga akan dimainkan relawan Garuda Nusantara JK-Win, di Provinsi Sulbar yang merupakan Provinsi termuda di Indonesia yang dinilai sebagai basis yang akan mendulang suara bagi pasangan yang bernomor urut tiga tersebut.
Ia mengatakan, serangan udara yang akan dimainkan pasangan JK-Win adalah pencitraan, seperti yang terus dilakukan tim pemenangan pasangan ini ditingkat nasional.
Melalui pencitraan itu, sekaligus menunjukkan kepada bangsa ini bahwa JK adalah calon pemimpin yang akan membangun kemandirian bangsa demi kedaulatan ekonomi dan politik, ujar Ibnu Munzir, legisalator Golkar yang telah ditetapkan lolos ke Senayan untuk mewakil Sulbar menjadi anggota DPR-RI.
Sedangkan untuk serangan darat adalah berupaya mengawal di tempat pemungutan suara (TPS) agar JK-Win dapat menjadi pemenang dis eluruh TPS.
JK akan melakukan Konsolidasi dengan bermacam-macam strategi untuk menguasai sekitar 80 persen penduduk yang ada di luar Jawa yang jumlahnya mencapai sekitar 40 persen dari seluruh rakyat Indonesia yang menjadi wajib pilih.
(T.PK-MFH/F003)
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
