
Unjukrasa Minta Hadang Pasangan Neoliberalis

Makassar (ANTARA Sulsel) - Ribuan massa Spartan berunjukrasa di depan kantor KPU Sulsel, di Makassar, Rabu, menyerukan kepada Capres-Cawapres anti neoliberalis agar menghadang pasangan yang mengusung neolib pada Pilpres 2009.
Dalam orasi politiknya mereka menyerukan kepada pasangan Calon presiden-Calon Wakil Presiden (Capres-Cawapres) dari kubu JK-Wiranto dan Mega-Pro agar dapat membangun persatuan nasional untuk menghadang pasangan Capres-Cawapres yang pro Neoliberalisme.
Di hadapan ribuan massa tergabung dalam Sukarelawan Perjuangan Rakyat untuk Pembebasan Tanah Air (Spartan) yang terdiri dari kaum ibu-ibu, perempuan muda dan organisasi mahasiswa, pemuda dan buruh tani ini secara bergantian menyerukan penentangannya terdapat pasangan pro-Neolib.
"Kami menyerukan kepada Capres-Cawapres dari kubu JK-Win dan Mega-Pro yang anti-Neoliberalis, untuk membangun persatuan nasional menghadapi dan menghadang Capres-Cawapres Neolib," seru Ketua Wilayah SRMI Sulsel, Wahida
Menurutya, visi JK-Win dan Mega-Pro perlu diapresiasi secara positif untuk menanggapi watak dan tujuan politik Neolib.
Spartan menganggap pasangan JK-Win dan Mega-Pro sebagai anti kubu pro-neoliberalis ini harus mendukung politik mobilisasi dan partisipasi rakyat, baik dalam sosial ekonomi maupun mengambilan keputusan politik.
Namun, Spartan juga menilai kedua pasangan yang anti-neolib, belum punya program kongkrit dan tegas pro-rakyat untuk mencapai bangsa yang mandiri dan berdaulat, dalam pernyataan sikapnya
Selain itu, ribuan massa yang memacetkan jalan Pettarani selama dua jam ini menyerukan kepada masyarakat Sulsel agar tidak memilih pasangan neolib.
"Bagaimana mungkin yang tunduk dengan pihak asing akan kita pilih, jangan kaget jika angka pengangguran akan meningkat jika memilih pendukung neolib," teriak Wahidah di depan massa, yang sebelumnya melakukan longmarch 'start' di kantor DPRD Kota Makassar.
(T.PSO-101/F003)
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
