Logo Header Antaranews Makassar

Toraja Utara Waspadai Babi Dari Luar

Selasa, 21 Juli 2009 22:56 WIB
Image Print

Makassar (ANTARA Sulsel) - Pemerintah kabupaten Tanatoraja Utara, Sulawesi Selatan saat ini mewaspadai masuknya ternak babi ke daerahnya sebagai upaya antisipasi menularnya virus H1N1 yang mematikan, termasuk pengawasan terhadap babi yang banyak diternakkan masyarakat setempat.

"Sejak awal Juli 2009 pemerintah melakukan pengawasan terhadap ternak babi yang masuk ke wilayah ini menyusul sudah ada warga Sulsel yang tertular penyakit tersebut, namun belum ada yang meninggal dunia," kata Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan kabupaten Toraja Utara, Maraya Allosomba di Makassar, Selasa.

Toraja Utara yang merupakan kabupaten/kota ke-24 di provinsi ini, lanjutnya, sekarang ini masih "steril" dari virus tersebut, namun jika pengawasan tidak ketat, termasuk turis asing yang masuk ke daerah obyek wisata budaya andalan Sulsel ini, wabah penyakit tersebut bisa saja menjangkiti masyarakat.

Pengawasan terhadap ternak babi tidak hanya dilakukan pada ternak yang berasal dari tetangga kabupaten ini, termasuk kabupaten Tanatoraja yang merupakan induk dari Toraja Utara yang dimekarkan tahun lalu, tetapi lebih khusus terhadap ternak babi yang dikembangkan masyarakat di daerah ini, termasuk yang diternak warga keturunan asal Belgia yang memiliki ratusan ekor babi unggul.

Populasi ternak babi di kabupaten Tanatoraja dan Toraya Utara saat ini mencapai 454.298 ekor atau paling banyak dibanding delapan kabupaten lainnya (Maros, Gowa, Wajo, Luwu, Pinrang, Lutra, Palopo dan Luwu Timur) yang seluruhnya tercatat 73.274 ekor. Populasi ternak babi di Sulsel mencapai 527.572 ekor.

"Sampai sekarang daerah ini masih aman dari virus yang mematikan itu menyusul makin ketatnya pengawasan terhadap ternak yang masuk ke daerah ini," ungkapnya seraya menambahkan, banyak turis mancanegara tetap mengalir ke Toraja Utara untuk menyaksikan upacara pemakaman (rambu Solo) yang sudah ratusan tahun meninggal dunia dan baru diacarakan secara adat bangsawan daerah ini.

Mengalirnya wisatawan ke daerah ini, lanjutnya, membuktikan bahwa Toraja Utara maupun induk kabupaten ini, yakni kabupaten Tanatoraja masih bebas dari virus H1N1 tersebut sehingga turis maupun wisatawan nusantara tetap mengunjungi daerah berpenduduk hampir 300 ribu jiwa ini.

Menurutnya, ternak babi dikembangkan masyarakat daerah ini untuk persiapan upacara adat pemakaman bangsawan yang setiap tahun diacarakan untuk disumbangkan kepada keluarga yang berduka secara turun-temurun.

Pesta rambu Solo yang sangat unik dan tidak ada duanya di dunia ini menarik ditonton, terutama turis asing sebab mayat yang ratusan tahun disimpan pada rumah 'tongkonan' maupun pada tangki 'raksasa' (tempat penyimpanan mayat) setinggi lima meter dan panjang 2-3 meter, di dalamnya tersimpan apik puluhan mayat berstatus bangsawan.

Pemakaman jenasah dimulai dari mengarak dari tempat itu menuju lokasi pesta upacara pemakaman berjarak sekitar dua kilometer sambil diiringi tarian adat Tanatoraja serta dikawal puluhan warga yang memakai pakaian adat dilengkapi tombak.

Di tempat upacara tersebut berdiri bangunan tinggi sebagai tempat peristirahatan sementara bagi jenasah sebelum dimakamkan. Di lokasi ini juga dibangun puluhan rumah tongkonan bagi tamu-tamu keluarga bangsawan dari kabupaten maupun luar provinsi Sulsel, menambah semaraknya upacara adat pemakaman tersebut.

(T.PSO-099/F003)