Logo Header Antaranews Makassar

Warga Sulsel pertahankan tradisi Bubur Syura setiap 10 Muharram

Senin, 7 Juli 2025 05:52 WIB
Image Print
Tradisi Bubur Syura yang menjadi hidangan dalam setiap 10 Muharram (dalam kalender Islam) hingga saat ini masih terjaga di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. ANTARA/Suriani Mappong

Makassar (ANTARA) - Warga di Sulawesi Selatan tetap mempertahankan tradisi Bubur Syura yang diperingati setiap tanggal 10 Muharram dalam kalender Islam.

"Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan dan solidaritas yang masih melekat di kalangan warga Suku Bugis dan Makassar," kata Pemerhati Komunikasi Antarbudaya Dr H. Hatita dari Universitas Muslim Indonesia di Makassar, Minggu.

Dia mengatakan Bubur Syura merupakan bagian dari warisan budaya Islam di daerah ini terus dipertahankan dan menjadi simbol kebersamaan dan keakraban masyarakat.

Oleh karena itu, kata dia, setiap 10 Muharram, masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya di Makassar dan sekitarnya, berkumpul di rumah atau masjid untuk melaksanakan doa dan zikir bersama.

Sebelumnya, warga menyiapkan Bubur Syura bersama dengan keluarga ataupun kerabat. Makanan bubur yang terbuat dari beras, santan, dan berbagai pernak-pernik untuk toping bubur tersebut.

Hal senada juga sampaikan warga Kota Makassar, Rahmatia. Menurut dia, Bubur Syura ini memberikan dampak sosial yang sangat baik di kalangan masyarakat karena mengajak masyarakat untuk selalu berbagi dengan sesama.

"Seusai doa bersama,selalu ada kegiatan membagi-bagikan Bubur Sura kepada tetangga, keluarga ataupun teman," katanya.

Menurut dia, nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Bubur Syura ini, selain memupuk solidaritas, juga meningkatkan kesetiakawanan sosial.

"Pasalnya mulai dari pembuatan Bubur Syura melibatkan banyak orang dari keluarga hingga komunitas. Mereka bekerja sama untuk menyiapkan bahan-bahan, memasak hingga mendistribusikan bubur kepada masyarakat," katanya.



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026