Logo Header Antaranews Makassar

Festival Cap Go Meh di Makassar, simbol kebersamaan di tengah perbedaan

Sabtu, 28 Februari 2026 22:17 WIB
Image Print
Suasana Festival Cap Go Meh di Kota Makassar, Sabtu (28/2/2028). (ANTARA/Maisyarah Djamade)

Makassar (ANTARA) - Perayaan Cap Go Meh dalam rangka penutupan tahun Imlek 2577 berlangsung meriah di Makassar, Sabtu. Kegiatan yang digelar oleh Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sulawesi Selatan ini dilaksanakan sejak 28 Februari hingga 1 Maret 2026 dan menjadi salah satu festival rakyat terbesar di Kota Makassar.

Festival Cap Go Meh tahun ini menghadirkan lebih dari 150 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjajakan beragam kuliner dan produk khas Imlek. Pengunjung tidak hanya menikmati sajian kuliner, tetapi juga disuguhkan parade barongsai, lampion warna-warni, serta pertunjukan seni budaya Tionghoa dan lokal.

Personel Polres Pelabuhan Makassar Aipda Irfandi menyebut sebanyak 221 personel dikerahkan untuk mengamankan perayaan selama dua hari. Mereka disebar di beberapa titik pengamanan, mulai dari area Jappa Jokka, arak-arakan, hingga tahap konsolidasi pada pukul 23.00 WITA.

“Pelaksanaan pengamanan alhamdulillah berjalan lancar, dan seluruh personel bekerja sesuai dengan tupoksi masing-masing,” ujarnya.

Tahun ini, perayaan Cap Go Meh bertepatan dengan momen bulan Ramadhan, sehingga suasana festival terasa lebih hangat. Pengunjung tidak hanya berasal dari etnis Tionghoa, tetapi juga dari kalangan umat Muslim yang turut ngabuburit dan berbuka puasa bersama di area UMKM. Menariknya, salat Maghrib berjamaah juga digelar di depan panggung utama sebagai bentuk toleransi antarumat beragama.

Salah satu pengunjung, Tifani, mengungkapkan bahwa perayaan ini merupakan simbol penutupan dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek, dan tahun ini merupakan Tahun Baru Kuda.

“Saya tahun lalu juga datang ke Cap Go Meh, dan tahun ini ikut lagi karena seru. Bisa quality time bareng teman dan keluarga,” tuturnya.

Festival Cap Go Meh di Makassar menjadi simbol kerukunan dan kebersamaan antarumat beragama. Melalui ruang pertemuan budaya dan tradisi ini, masyarakat diingatkan bahwa keberagaman adalah kekuatan untuk menjaga persatuan dan harmoni.



Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026