Logo Header Antaranews Makassar

Wamen PPPA berharap perlindungan ekonomi bagi perempuan dan anak dimulai dari desa

Jumat, 27 Maret 2026 20:54 WIB
Image Print
Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan (kanan) menjawab pertanyaan wartawan seusai menghadiri PSBM XXVI di Hotel Claro Makassar, Sulawesi Selatan. ANTARA/Darwin Fatir.

Makassar (ANTARA) - Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan berharap perlindungan dan peningkatan ekonomi bagi perempuan dan anak dimulai dari desa, dengan merumuskan program melalui musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang).

"Kita berharap perlindungan perempuan, anak terpadu itu harus mulai dari desa. Inilah yang kita kejar ke Musrenbang, bagaimana program-program kementerian dari Musrenbang itu benar-benar berprespektif perempuan," ujarnya di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat.

Bila berbicara pelayanan terpadu untuk perlindungan anak Indonesia, kata dia, tidak bisa hanya diserahkan pada tingkatan Unit Pelayanan Terpadu Daerah (UPTD) PPA kabupaten/kota, tapi dapat dihadirkan di desa.

"Nanti ketika sudah terjadi kasus, baru lari (ke UPTD PPA), ini susah. Mestinya, bagaimana kepala desa itu punya perspektif bahwa keluarga, perempuan, itu harus diikutsertakan sebagai subjek," tuturnya.

Artinya, kata Veronica, banyak perempuan kini menjadi tulang punggung keluarga, sehingga perlu difasilitasi datanya secara akurat melalui Musrenbang agar program masuk dalam perencanaan bagi perempuan dan anak guna meningkatkan perekonomian mereka maupun menurunkan stunting.

"Makanya, kita sebenarnya KemenPPPA pengen berkolaborasi melalui kebun pangan lokal perempuan komunitas, dijahit dengan program swasembada pangan program Pak Presiden," katanya.

Selain itu, bagaimana dari kebun komunitas tadi diintegrasikan mengolah peternakan ayam dari lokal ke lokal. Program ini lebih kepada permakultur atau sistem perancangan pertanian berdasar pada pola dan karakteristik ekosistem alam.

"Jadi, tidak merusak alam, tidak merusak lingkungan, tapi dari tanah yang ada itu bisa kita menumbuhkan sayur-sayur lokal, dan tentunya, kenapa harus ada hewan, ikan, segala macam itu, karena kita kembalikan ekosistem supaya zero waste," ujarnya.

Selanjutnya, bagaimana dari makanan ternak dan air dari kolam ikan itu bisa menjadi pupuk kembali. Bagaimana siklus ini bisa dibuat menjadi tempat platform kebun komunitas, sekaligus mendidik melalui parenting kepada keluarga.

"Kita harus mulai dari hulu untuk menyadarkan masyarakat makanan bergizi seperti apa. Jangan tukar ikan dengan makanan instan, jangan hanya anak hanya dikasih makan kenyang saja, padahal punya potensi ikan dan punya potensi-potensi tanaman yang lain," tuturnya.

Menurut dia, ujung dari kekerasan yang terjadi atau ada orang tua melukai anak, bahkan menjual anaknya sendiri, karena ada tekanan ekonomi yang menjadi dasarnya. Ada beban keluarga, beban kemiskinan, percekcokan, hingga pendidikan yang sangat minim.

"Ini yang harus kita jahit dari program prioritas Pak Presiden, itu bisa menyambung kepada satuan terkecil kita di desa. Sehingga, bisa didata, kita dapat data akurat, kita memasukkan perempuan-perempuan sebagai ujungnya, karena mereka banyak yang sudah jadi tulang punggung," ujarnya.

Oleh karena itu, kata dia, yang paling penting desa punya inovasi bagaimana menerjemahkan Musrenbang dan BUMDes pada anggaran desa dalam satu platform, mengakomodasi maupun memberi perlindungan anak serta pemberdayaan perempuan dimasukkan dalam perencanaan.

Sehingga, ini menjadi satu platform satuan terpadu agar menjadi administrator melindungi anak. Harapannya adalah program dengan swasembada pangan kita bisa bekerja sama dengan kebun lokal komunitas khusus untuk perempuan.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Wamen PPPA berharap perlindungan ekonomi perempuan dimulai dari desa



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026