Logo Header Antaranews Makassar

Gubernur : Masyarakat Sulbar harus bangga sebagai bangsa Indonesia

Rabu, 20 Mei 2026 18:13 WIB
Image Print
Gubernur Sulbar Suhardi Duka (kiri) bersama Sekretaris Daerah Provinsi Sulbar Junda Maulana (kanan) pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional Ke-118, di Mamuju, Rabu (20/5/2026). ANTARA/HO-Diskominfo Sulbar

Mamuju (ANTARA) - Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka mengingatkan masyarakat di daerah itu harus bangga terhadap kemajuan bangsa Indonesia di berbagai sektor, mulai dari teknologi hingga industri pertahanan.

“Di ASEAN saya kira kita lebih maju. Kita bisa bikin pesawat terbang, kapal, bahkan kapal perang. Banggalah kita sebagai bangsa Indonesia yang besar ini," kata Suhardi Duka, pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), di Mamuju, Rabu.

Hari Kebangkitan Nasional diperingati setiap 20 Mei untuk mengenang berdirinya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908 yang didirikan oleh Dr Sutomo bersama mahasiswa School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA).

Peristiwa tersebut menjadi tonggak awal tumbuhnya kesadaran persatuan dan nasionalisme bangsa Indonesia.

Mantan Bupati Mamuju dua periode ini menuturkan bahwa Kebangkitan Nasional menjadi awal munculnya kesadaran rakyat Indonesia untuk bersatu melawan penjajahan.

"Tahun 1908 mulai muncul kesadaran bahwa kita dijajah dan dihadapkan satu sama lain. Dari situlah muncul gagasan untuk hidup bersama-sama dan lahirlah Kebangkitan Nasional," ujarnya.

Semangat tersebut, kata Suhardi, kemudian berkembang hingga melahirkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 dan berujung pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

Mantan anggota DR RI juga menyinggung kekuatan identitas bangsa Indonesia yang dinilai mampu mempersatukan berbagai suku dan budaya melalui bahasa Indonesia.

"Kalau kita bahasa resminya hanya Indonesia. Paling dipadukan dengan bahasa daerah. Itu yang membuat persatuan kita kuat," katanya.

Ia membandingkan kondisi Indonesia dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara yang masih memiliki pemisahan identitas berdasarkan etnis maupun bahasa dalam sistem pendidikan.

Suhardi juga menekankan pentingnya melakukan koreksi terhadap budaya negatif seperti praktik gratifikasi dan sogok menyogok yang menurutnya telah tumbuh sejak masa kerajaan melalui sistem upeti.

"Peringatan Harkitnas tahun ini menjadi momentum refleksi untuk memperkuat semangat persatuan, nasionalisme serta komitmen membangun Indonesia yang lebih maju," kata Suhardi Duka.



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026