
Hadirkan senyum Mamminasata di Moncongloe

Makassar (ANTARA) - Pagi itu, di sisi kanan gerbang Sekolah Inpres Pammanjengan, Desa Moncongloe, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, seorang pria paruh baya berdiri tegap. Matanya tajam dan waspada, mengamati deretan kendaraan yang merayap di atas jalan berdebu yang tengah diperbaiki. Ia adalah Muhammad Idris. Pria asal Sudiang yang sudah enam tahun mengabdikan dirinya sebagai penjaga sekolah.
Meskipun lalu lintas pagi itu tak sepadat hari kerja biasanya, kewaspadaan Idris tak sedikit pun kendur. Dengan tongkat lampu lalu lintas di tangan kirinya, ia memberi aba-aba agar para pengendara menurunkan kecepatan.
Tangan kanannya yang berwarna kecoklatan dengan kerutan khas penanda usia, terangkat hangat menyambut salim lembut jemari kecil anak-anak sekolah yang baru tiba.
"Langsung masuk kelas ya, Nak," sapanya lembut.
Instruksi itu bukan sekadar pengingat agar siswa tidak terlambat, melainkan bentuk perlindungan Idris agar anak-anak tak meredam debu jalanan yang terus beterbangan akibat perbaikan ruas Jalan Moncongloe.
Berbalut rompi stabilo betuliskan "Polisi" yang mulai memudar dan masker hitam yang terpasang kuat menutupi mulut, Idris terus fokus mengawasi. Dalam pengawasan, sesekali melemparkan pandangannya ke proyek perbaikan jalan yang tepat berada di depan matanya.
Pria yang sudah enam tahun bekerja sebagai penjaga sekolah itu menjelaskan, penanganan Jalan Moncongloe melalui skema
Multi Years Project (MYP) yang resmi di groundbreaking oleh Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman pada 23 Juli 2026, terfokus penggalian saluran air atau drainase.
Saat ini, panjang galian selokan yang sudah dikerjakan oleh rekanan yang memenangkan tender telah mencapai ratusan meter pada setiap sisi ruas Jalan Moncongloe.
Pria yang memiliki keluarga besar di Pammanjengan Moncongloe itu menjelaskan, perbaikan selokan air menjadi sangat vital dan wajib masuk prioritas. Sebab wilayah itu, khususnya di depan SPBU Moncongloe sekaligus jalur pertigaan kawasan Mamminasata tersebut merupakan pusat langganan banjir.
Sebagai pengguna jalan yang hampir setiap hari melewati Jalan Moncongloe, Idris menilai langkah Pemprov Sulsel melalui MYP atau proyek tahun jamak merupakan kebijakan yang brilian dan berkeadilan. Apalagi perbaikan jalan sudah lama dinanti warga kawasan Mamminasata (Makassar, Maros, Gowa, Takalar).
Idris mengisahkan dua tahun lalu, hujan lebat yang berlangsung cukup lama membuat wilayah Moncongloe, Maros kebanjiran. Kondisi itu diperparah akibat tidak berfungsinya saluran air di sepanjang ruas jalan Moncongloe.
Besarnya debit air hujan tanpa dukungan pengairan pada akhirnya ikut merendam seluruh ruang kelas SD Inpres Moncongloe hingga aktivitas belajar terpaksa diliburkan selama dua pekan.
Tak hanya mengganggu kegiatan belajar mengajar, jalan berlubang dan genangan air juga kerap memicu kecelakaan. Salah satunya menimpa seorang ibu yang terjatuh dari motornya pada pertengahan Maret lalu.
Penanganan awal sebelum groudbreaking yang dilakukan Pemprov Sulawesi Selatan dengan menimbun pusat genangan air sekaligus memasang paving block di depan SPBU Moncongloe langsung memberikan efek. Jalur yang selama ini langganan banjir kini sudah bebas genangan dan jauh lebih aman dilalui pengendara.
"Sejak dilakukan penimbunan di titik rawan depan SPBU, genangan berkurang drastis. Pengendara kini bisa melintas lebih aman," tutur Idris.
Bagi Idris dan warga Moncongloe, penuntasan pengerjaan drainase ini bukan sekadar urusan infrastruktur fisik semata. Ini adalah harapan agar trauma banjir tak lagi melumpuhkan jalan trans Mamminasata, menghentikan rezeki pedagang, atau memutus hak belajar anak-anak sekolah.
Bertaruh harapan
Bagi Ihsan, setang sepeda motornya bukan sekadar alat kemudi, melainkan penentu nasib dan mata pencaharian. Setiap kali menerima pesanan yang melintasi jalur Moncongloe, degup dadanya meningkat. Bukan hanya soal mengejar waktu, tetapi tentang menjaga kepuasan konsumen dan menghindari rating bintang satu yang bisa memutus rezekinya.
Saat kemacetan parah melumpuhkan jalur tersebut, Ihsan dipaksa memeras seluruh keterampilannya. Ban motornya menyelip di celah sempit antara deretan kendaraan dan bibir selokan. Rasa waswas menyelimuti tiap jengkal langkahnya membayangkan risiko tergelincir, ban tertusuk paku, hingga risiko ban pecah akibat menghantam batu tajam.
"Semua orang mau cepat, semua orang capek hingga membuat ego kadang tak terkontrol," ujar Ihsan menggambarkan tensi tinggi antar-pengendara yang saling serobot di tengah kepulan asap knalpot.
Kisah Ihsan hanyalah satu dari ribuan wajah lesu yang saban hari menelan debu Moncongloe. Pandi, seorang pedagang sayur keliling, kerap meringis melihat barang dagangannya layu di jalan. Tak jarang, ia terjebak hingga satu jam lebih dalam kemacetan yang mengular.
Waktu yang terbuang di jalan berarti berkurangnya pendapatan yang bisa dibawa pulang untuk keluarga.
Jika penanganan seutuhnya rampung, pengadaan lampu merah di pertigaan SPBU Moncongloe juga wajib menjadi perhatian pihak terkait guna mencegah potensi kemacetan akibat ulah pengemudi yang tidak ingin saling mengalah.
Harapan Baru
Asa baru kini mulai terbit. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan resmi memulai pengerjaan total ruas Jalan Moncongloe melalui proyek Multi Years Project (MYP) Paket 6 dengan total anggaran Rp239 miliar.
Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, menjelaskan bahwa pengerjaan dilakukan secara cermat mengingat jalur tersebut berada di kawasan padat penduduk. Pihaknya berkomitmen agar proses konstruksi tetap memberi ruang bagi aktivitas harian masyarakat.
Tak sekadar menambal lubang, perbaikan kali ini membawa skema penanganan menyeluruh. Mulai dari tahap pembangunan drainase baru agar untuk memperlancar aliran air agar tidak lagi merusak permukaan jalan. Peninggian badan jalan hingga 45 sentimeter untuk membebas luaskan jalur dari genangan air saban musim hujan tiba.
Bagi masyarakat di kawasan Mamminasata (Makassar, Maros, Sungguminasa, dan Takalar), dimulainya proyek MYP 2025–2027 ini bukan sekadar urusan perbaikan semen dan aspal. Ini adalah janji kembalinya kenyamanan hidup. Warga berharap, rampungnya pengerjaan kelak bakal menyapu bersih riuh klakson frustrasi dan mengganti wajah-wajah lesu di Moncongloe dengan senyum lega.
Magnet Wisata Pucak hingga kebutuhan lahan abadi
Kabupaten Maros tidak pernah kehabisan daya pikat bagi para pelancong. Selain kemegahan Karst Rammang-Rammang atau kesejukan Taman Nasional Bantimurung, wilayah ini menyimpan surga tersembunyi lain Kawasan Pucak di Kecamatan Tompobulu.
Berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Makassar, Pucak menyuguhkan agrowisata perkebunan, lanskap pertanian yang asri, serta wahana pemandian alam yang menyegarkan.
Sayangnya, pesona Kawasan Pucak kerap kali menyisakan dilema bagi wisatawan asal Makassar maupun Gowa. Untuk mencapainya, pengendara harus melintasi Ruas Jalan Moncongloe. Kemacetan parah serta kondisi jalan yang memprihatinkan tak jarang membuat niat berlibur urung, digantikan oleh keraguan akan perjalanan yang melelahkan.
Namun, bayang-bayang kemacetan tersebut perlahan menemukan titik terang. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan kini tengah menggenjot perbaikan total di jalur tersebut melalui program MYP Paket 6 yang dijadwalkan berlangsung bertahap hingga 2027.
Kepala Dinas Bina Marga dan Konstruksi (BMBK) Sulsel, Andi Ihsan, menjelaskan bahwa proyek ini berfokus pada penanganan ruas Batas Kota Makassar- Pamanjengan, Benteng Gajah sepanjang kurang lebih 9,3 kilometer.
Pengerjaan jalan ini tak sekadar melancarkan arus lalu lintas menuju destinasi wisata Pucak, tetapi juga membuka akses terhadap salah satu infrastruktur paling krusial di kawasan metro Mamminasata.
Sektor pariwisata bukan satu-satunya alasan mengapa pengerjaan ruas jalan ini begitu mendesak. Pembukaan dan perbaikan akses Moncongloe hingga ke Benteng Gajah secara langsung mendukung rencana strategis Pemerintah Kota Makassar.
Saat ini, Kota Makassar dihadapkan pada keterbatasan lahan pemakaman umum (TPU) yang kian kritis akibat pesatnya pertumbuhan penduduk. Menjawab tantangan tersebut, Pemkot Makassar telah menjajaki penyediaan lahan TPU baru yang berlokasi di Desa Tompobulu, Kabupaten Maros seluas 20 hektare.
Adanya perbaikan infrastruktur jalan sepanjang 9,3 km melalui MYP Paket 6 ini, konektivitas dari Kota Makassar menuju calon lokasi pemakaman baru di Benteng Gajah akan jauh lebih efisien, aman, dan nyaman.
Di tengah kepulan debu dan deru mesin yang lalu lalang, Idris tetap berdiri setia di gerbang sekolah. Seolah mewakili warga dan pengguna Ruas Jalan Moncongloe percaya, ketangguhannya menjaga keselamatan para siswa hari ini adalah bagian kecil dari penantian panjang menuju esok: saat Moncongloe tak lagi tergenang, kemacetan terurai, dan senyum hangat masyarakat Mamminasata benar-benar terukir indah.
Pewarta : Abdul Kadir
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
