
Predikat "Ambon Manise" Harus Dijaga

Ambon (ANTARA Sulsel) - Wali Kota Ambon Jopi Papilaja menegaskan, julukan "Manise" (maju, aman, nyaman, indah, sehat, sejahtera) yang disandang Kota Ambon, harus tetap dijaga dan dilestarikan oleh seluruh warganya karena predikat ini sudah melegenda di seluruh dunia.
"Manise menjadi ciri khas dan keunikan Kota Ambon yang sudah terkenal sampai ke dunia internasional. Ini harus tetap dijaga dan dilestarikan karena letaknya berada di pesisir Teluk Ambon yang eksotik," kata Wali Kota Papilaja dalam pidato HUT ke-434 Kota Ambon, Senin.
Menurut Papilaja, predikat tersebut perlu diikuti dengan perilaku hidup bersih warga Kota Ambon dan mulai dari lingkungan terkecil yakni keluarga.
Diakuinya, saat ini telah terjadi degradasi moral yang diakibatkan oleh perilaku kurang bertanggung jawab, di antaranya membuang sampah sembarangan dan tidak tepat waktu, membangun rumah tanpa izin di daerah perbukitan serta menebang pohon pelindung di kawasan konservasi air.
Dia juga mengakui, masih ditemui warga kota yang kurang bertanggung jawab terhadap kebersihan dan kesehatan, dengan membangun jambang diatas sungai. "Semua perilaku seperti ini berdampak negatif terhadap kekhasan dan keunikan Kota Ambon, sekaligus bagi kesehatan," tandasnya.
Menurutnya, tema HUT ke-434 Kota Ambon "Bersih dan Hijaulah Ambonku", harus menjadi motivasi baru kepada seluruh warga untuk tetap melestarikan budaya bersih yang sudah mengakar sejak dulu, sehingga Ambon kembali dapat meraih gelar Adipura.
"Tujuannya memberikan spirit dan semangat bagi aparatur pemerintah, politisi dan semua warga kota agar timbul kesadaran yang sama untuk mengembalikan ciri khas dan keunikan Ambon, sehingga julukan 'Ambon Manise' tetap terjaga dan tidak hanya menjadi sebuah kenangan," ujar Jopie.
Kesejahteraan
Dia menambahkan, kesejahteraan masyarakat secara luas terus menjadi perhatian Pemkot Ambon, karena erat kaitannya dengan kualitas pendidikan, kesehatan, lingkungan sosial, keamanan, pengangguran serta kemiskinan di kota itu.
"Berbagai indikator menunjukkan tingkat kesejahteraan warga Kota tahun 2008, berada diatas standar nasional dan rata-rata Provinsi Maluku, antara lain laju pertumbuhan ekonomi mencapai 5,91 persen, pengeluaran riil per kapita meningkat hingga Rp645.000 atau, berada diatas standar nasional Rp629.100 dan rata-rata Provinsi Maluku Rp602.400," katanya.
Sedangkan, total simpanan dan tabungan masyarakat Maluku mencapai angka Rp3,2 triliun dan 65,56 persennya merupakan tabungan warga Kota Ambon.
Begitu pun Indeks pembangunan manusia (IPM) di Ambon sebesar 77,46 persen dan melebihi tingkat nasional yang hanya 70,59 persen serta Provinsi 70,4 persen, membuat Kota Ambon berada pada ranking delapan secara nasional.
Angka partisipasi murni usia sekolah tingkat SD dan Madrasah Ibtidayah (MI) 97,76 persen, SMP dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) 90,11 persen serta SMA dan SMK 106,66 persen.
"Angka pasrtisipasi untuk SMA dan SMK memang tidak rasional karena melebihi 100 persen. Ini disebabkan banyaknya pelajar dari kabupaten lain yang datang ke Ambon untuk melanjutkan pendidikan," ujarnya dia.
Presentasi kelulusan SD/MI mencapai 99,95 persen, SMP dan MTs 96,20 persen, SMA dan MA 93,55 persen serta SMK mencapai 92,73 persen.
Angka kematian ibu bersalin di Ambon tercatat 12 per 100.000 kelahiran hidup atau dibawah rata-rata nasional yakni 300 per 100.000 kelahiran hidup, angka kematian bayi lahir 7 orang per 1.000 kelahiran hidup dari rata-rata nasional 34 per 1.000 kelahiran hidup.
Angka kematian balita tercatat 10 per 1.000 kelahiran hidup atau berada dibawah rata-rata nasional yang masih mencapai 44 per 1.000 kelahiran hidup, serta usia harapan hidup meningkat dari 70 tahun menjadi 71,2 tahun.
Jumlah keluarga miskin di Ambon juga berkurang dari 10.943 menjadi 10.574 kepala keluarga (KK), keamanan dan ketentraman sangat baik dan tingkat partisipasi masyarakat pada Pemilihan Umum (Pemilu) sebesar 72 persen.
Dia menambahkan, dinamika pembangunan di Kota Ambon saat ini mengarah pada tiga hal penting yaitu berpihak kepada pembangunan, penyediaan lapangan pekerjaan serta masyarakat miskin, melalui program pembangunan Terminal Transit di Desa Passo, Kecamatan Baguala sebagai sentra ekonomi baru di Kota Ambon, Merdeka Square serta Ambon sebagai Water Front City.
(T.K-JA/A041)
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
