Ritual Warnai Penamaan Jalan Andi Djemma Makassar

Pewarta : id nama jalan, andi djemma, ritual, pemkot makassar

Makassar (Antara Sulsel) - Pemerintah Kota Makassar memberikan penghargaan khusus di Hari Pahlawan dengan memberikan nama jalan Pahlawan Nasional Andi Djemma menggantikan nama jalan Landak Baru di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat.

Hadir lima putra dan cucu mendiang Datuk Luwu, Andi DJemma untuk mengikuti ritual adat "Accera Laleng" atau tradisi tolak bala sekaligus permohonan berkah pemberian nama jalan tersebut.

Lima keluarga mendiang Andi Djemma masing-masing Andi Mackulau Djemma, Andi Andi Ahmad Djemma, Andi Iskandar Djemma, Andi Nuhung Djemma dan Andi Iwan Bau Alamsyah merupakan Datuk terakhir kerajaan Luwu.

"Untuk keluarga datuk kerajaan luwu ada sekitar seratusan orang, kemudian lima sepupu putra datu termasuk anak dan cucu Andi Djemma hadir menyaksikan ritual tersebut," kata kerabat kerajaan Datuk Luwu, Andi Aisiyah Lamboge.

Ritual pemecahan kendi dan rangkaian adat tersebut merupakan tradisi kerajaan Luwu bila menyematkan nama Andi Djemma untuk digunakan sebagai jalan umum.

Sebelum peresmian jalan Pahlawan Nasional itu, putra, cucu dan kerabat juga melakukan ziarah ke makam Andi Djemma di Taman Makam Pahlawan (TMP) Panaikang usai upacara hari Pahlawan di tempat itu.

Ritual "Massapo Kuburu" pun dilaksanakan pihak keluarga dengan menutup kuburnya dengan daun pandan yang sudah dianyam sekaligus tabur bunga. Ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan sekaligus meminta izin namanya akan dipakai sebagai jalan umum di Makassar.

"Keturunan kami, pewarisnya datang berziarah kubur beliau agar kami para keturunannya bisa mengikuti jejak sifat kepahlawanannya dan sifat kemuliaannya sebagai datuk. Bagi kami anak keturunannya untuk diingatkan kembali bahwa salah satu sifatnya mengutamakan rakyat dari pada diri sendiri," tutur Putra Andi Djemma, Andi Maradang Mackulau.

Datuk Luwu ini mengungkapkan bahwa perlu diingat di Sulsel mempunyai pahlawan nasional dan patut disyukuri yang turut serta mempertahankan kemerdekaan. "Jadi sudah sewajarnya pahlawan kita hormati, apalagi momen bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan," katanya.

Saat ditanyakan perhatian pemerintah kepada pahlawan khususnya Andi Djemma, kata dia, pemerintah kota dalam hal ini Wali Kota Moh Ramdhan Pomanto memberi perhatian khusus dengan mengeluarkan Surat Keputusan penamaan salah satu jalan di Kota Makassar.

"Selama ini perhatian pemerintah terhadap pahlawan khususnya Andi Djemma bagus sekali, Wakil Kota Danny Pomanto telah mengeluarkan putusan untuk memberikan nama jalan Andi Djemma mengantikan nama Landak Baru," kata dia.

Selaku keturunan dan ahli waris, pihaknya sangat bersyukur atas pemberian nama jalan itu dan berharap tidak hanya nama jalan tetapi hal penting lainnya.

"Tradisi tatanan adat Luwu, sebelum nama jalan diresmikan harus dilakukan ritual secara adat. Sebab, Andi Djemma di Luwu dan di Sulsel sangat dihargai serta dimuliakan. Menurut tatanan adat Luwu, tidak boleh juga tidak gampang nama jalanan disebut tanpa melalui adat, karena ini akan menjadi milik umum serta digunakan bebas," kata Opu To Bau, sapaan gelar kebangsawanan Luwu ini.



Sejarah

Andi Djemma merupakan seorang raja Luwu dan masuk di jajaran raja-raja di nusantara. Dia yang pertama kali mengakui kedaulatan negara Republik Indonesia pada Agustus 1945 saat Proklamasi Kemerdekaan disebarluskan.

Meski Sang Datuk mendapat tekanan dari kompeni Belanda karena kekuatan tidak seimbang kala itu, bersama permainsurinya serta orang-orangnya tetap melawan hingga bergerilya di wilayah kerajaannya. Namun takdir berkata lain Andi Djemma tertangkap.

Sang raja akhirnya diasingkan ke Ternate setelah penangkapan oleh tentara NICA pada 3 Juli 1946. Dengan sangat terpaksa meninggalkan istana Luwu kini bernama Kota Palopo, hingga menghembuskan nafas terakhirnya pada 23 Februari 1965.

Andi Djemma diketahui mempunyai lima putera kala itu. Paduka kemudian dimakamkan melalui upacara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar.

Karena jasa-jasanya Andi Djemma pun dianugerahi bintang kehormatan lencana "Bintang Gerilya" pada 10 November 1958 dengan Nomor 36.822 ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Soekarno.

Pernah pahlawan nasional ini meminta kepada Soekarno menjadikan tanah Luwu sebagai daerah istimewa, namun hingga dirinya wafat, permintaan tersebut tidak kunjung direalisasikan. Bahkan Luwu pernah bergejolak dengan pemberontakan Di/TII yang dipimpin Abdul Kahhar Mudzakkar, tapi berhasil diredam oleh tentara Indonesia saat itu.
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar