Logo Header Antaranews Makassar

Alumni Unhas mengelola 17 hektare lahan tambak

Rabu, 7 Maret 2018 20:35 WIB
Image Print
Lahan tambak yang akan dikelola Ikatan Alumi Perikanan Unhas di Kabupaen Barru, Sulawesi Selatan (Ist)

Makassar (Antaranews Sulsel) - Ikatan Alumni Perikanan Universitas Hasanuddin berencana mengelola seluas 17 hektare lahan tambak dengan konsep modern di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.

"Pengelolanya langsung dari alumni yang ahli budi daya. Konsep, model pengelolaan dan survei lahan telah dilakukan," kata Ketua Ikatan Alumni Perikanan Unhas Bahrianto Bachtiar di Makassar, Rabu.

Unhas memiliki lahan 22 hektare di daerah Bojo, Barru. Sejak tahun 2011-2012 sudah dikelola sebagai tambak pendidikan komoditi kepiting soka oleh Jurusan Perikanan Unhas.

Pada Oktober 2017 lima hektare lahan dijadikan kawasan eduwisata aqualife. Wahana wisata yang menggabungkan konsep wisata aquaculture dan mangrove dibangun dengn menjalin mitra bersama PT ASA.

Pada taman wisata ini terdapat rumah kecil tempat bersantai. Menikmati keindahan alam mangrove dan danau buatan.

Untuk 17 hektare lahan yang masih terbengkalai, alumni berencana bekerja sama dengan Balai Budi Daya Air Payau. Mendukung penyediaan benih ikan nila. "Skema bisnisnya diusulkan berbentuk koperasi," kata Bahrianto.

Alumni Perikanan yang ahli dalam pengelolaan kawasan, budidaya perikanan, teknologi budidaya, dan manajemen pakan akan terlibat langsung dalam proyek ini. "Sebagai tanggungjawab profesi dan moral alumni," kata Bahrianto.

Dalam mengelola lahan milik mantan Wali Kota Makassar Malik B Masry ini, Alumni Perikanan akan berkoordinasi dengan Divisi Aset Unhas sebagai penanggung jawab lahan. Alumni sudah mempersiapkan konsep dan model pengelolaan tambak pendidikan ini.

?Survei lahan juga dilakukan sebagai bentuk dukungan ke Unhas,? kata Bahrianto.

Sebelum dikembangkan untuk produksi skala besar, dua unit tambak telah dimanfaatkan untuk budidaya ikan bandeng dan nila skala kecil, penebaran 1.000 ekor dalam sekitar 1 hektare. "Dengan skala tradisional sudah cukup berhasil," kata anggota WWF Indonesia Idham Malik.

Tantangan yang akan dihadapi Alumni Perikanan dalam pengembangan lokasi adalah ancaman rob, air pasang, dan sampah plastik yang pada saat supermoon masuk ke areal budidaya. "Upaya yang akan dilakukan adalah menanam mangrove di sekitar lokasi," kata Idham.

Idham menambahkan, mangrove yang ditanam bisa menjadikan daerah sekitar tambak sumber bibit mangrove, sekaligus sebagai kawasan wisata.



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026