Logo Header Antaranews Makassar

SYL lepas ekspor tuna senilai rp2 miliar

Rabu, 25 April 2018 16:15 WIB
Image Print
Mantan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo (tengah) saat melepas ekspor perdana ikan tuna produksi PT Nirvana Niaga Sejahtera ke Jepang di Makassar, Rabu (25/4). ANTARA FOTO/Nurhaya J Panga

Makassar (Antaranews Sulsel) - Mantan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo (SYL) melepas ekspor perdana ikan tuna produksi PT Nirvana Niaga Sejahtera senilai Rp2 miliar ke Jepang di Makassar, Rabu.

SYL secara khusus diundang oleh pemilik perusahaan tersebut untuk melepas ekspor karena dinilai telah berkontribusi dalam memfasilitasi berbagai proses perizinan PT NNS.

"Saya diminta meluncurkan ekspor atas inisiatif dari pemilik pabrik karena dari awal memang segala fasilitasi industri di Sulsel kami yang mohon sehingga Pak Adi Samad sebagai pemilik merasa terfasilitasi," kata SYL usai melepas ekspor tersebut.

Menurut SYL, pihaknya telah mengenal pemilik PT NNS Adi Samad sejak masih menjadi pengusaha kecil. Ia bahkan telah memfasilitasi Adi Samad untuk berkolaborasi dengan pengusaha dari Tangerang, Banten.

"Ia mulai bisnisnya dengan ikan pindang di Semarang, dan saya kawal betul sehingga pada akhirnya hari ini sudah bisa ekspor," imbuh Syahrul.

Pemilik PT NNS Adi Samad mengakui pihaknya mendapat fasilitasi terkait pengurusan dokumen izin ekspor dari Pemprov Sulsel.

"Dengan adanya izin ini, kami harapkan ekspor dapat kami lakukan secara berkelanjutan," kata dia.

Untuk ekspor perdana, kata dia, pihaknya mengirimkan satu kontainer berkapasitas 14 ton ke Jepang.

Ia menargetkan dapat mengirimkan antara empat hingga lima kontainer tuna per bulan ke Jepang.

"Kami optimis dapat mengirimkan secara berkelanjutan karena bahan baku juga dari Indonesia Timur, mulai dari Sulsel, Sulbar, Sultra, Sulut hingga Ambon," ucapnya.

Ia mengatakan peluang ekspor ke pasar Jepang masih sangat besar karena kebutuhannya mencapai 200 hingga 300 ton per bulan, sementara pihaknya baru bisa memenuhi sekitar 50 ton.

"Kami baru bisa memproduksi maksimal 70 ton per bulan karena keterbatasan kapasitas pabrik kami," pungkasnya.



Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026