Realisasi PEN di Sulsel capai Rp6,7 triliun
Senin, 14 Desember 2020 21:26 WIB
Pakar ekonomi dari Universitas Hasanuddin Dr Marzuki, DEA (kiri). ANTARA Foto / Suriani Mappong
Makassar (ANTARA) - Realisasi dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di Sulawesi Selatan sepanjang Januari - 30 November 2020 mencapai Rp6,78 triliun
Pakar ekonomi dari Universitas Hasanuddin Dr Marzuki, DEA di Makassar, Senin, .mengatakan dari jumlah tersebut, berdasarkan data Direktorat Jenderal Perbendaharaan diketahui realisasi PEN di Sulsel untuk sektor kesehatan tercatat Rp185 miliar, UMKM Rp522 miliar, sektoral K/L Pemda Rp1,43 triliun dan perlindungan sosial Rp4,64 triliun.
Mencermati hal itu, dari empat komponen itu maka perlindungan sosial yang tercatat paling besar alokasinya.
Pada masa COVID-19 pemerintah memfokuskan pada persoalan sosial yang secara langsung maupun tidak, berdampak pada sektor lainnya.
"Sebagai gambaran, jika seseorang terinfeksi COVID-19, selain mempengaruhi interaksi sosialnya, karena harus mengisolasi diri, juga akan mempengaruhi sektor ekonomi di sekitarnya," katanya.
Mengenai perkembangan ekonomi Sulsel dari sisi tuntutan ke depan pada 2021, ia meyakini akan lebih baik dengan sejumlah indikator seperti konsumsi rumah menu jukkan perbaikan, terutama didukung oleh belanja perlindungan sosial yang meningkat tajam, sementara kelompok menengah atas masih menunda konsumsinya.
Selain itu, investasi meningkat signifikan seiring dengan berlanjutnya proyek pembangunan fisik yang tertunda. Juga kinerja ekspor sedikit membaik, kendati impor mengalami penurunan.
Pakar ekonomi dari Universitas Hasanuddin Dr Marzuki, DEA mengatakan pandemi COVID-19 telah memperlambat kinerja semua lini, termasuk sektor pertanian Sulsel yang pertumbuhannya terkoreksi hingga minus dua persen sebagai dampak dari pandemi COVID-19.
"Sulsel yang selama ini sebagai daerah penyangga pangan nasional, namun kini sektor pertaniannya anjlok hingga minus dua persen tentu akan berpengaruh dengan daerah lainnya" kata Marzuki di Makassar, Minggu.
Dia mengatakan daerah lain khususnya di Kawasan Timur Indonesia (KTI) sangat bergantung pada suplai beras dari Sulsel, sehingga jika produksi pertanian di daerah ini terganggu, maka daerah lain pun merasakan dampaknya.
Berkaitan dengan hal tersebut, lanjut dia, ini akan memberikan pekerjaan besar bagi pengambil kebijakan di Sulsel, pasalnya, perekonomian Sulsel sebagian besar bertumpu pada sektor pertanian.
Pakar ekonomi dari Universitas Hasanuddin Dr Marzuki, DEA di Makassar, Senin, .mengatakan dari jumlah tersebut, berdasarkan data Direktorat Jenderal Perbendaharaan diketahui realisasi PEN di Sulsel untuk sektor kesehatan tercatat Rp185 miliar, UMKM Rp522 miliar, sektoral K/L Pemda Rp1,43 triliun dan perlindungan sosial Rp4,64 triliun.
Mencermati hal itu, dari empat komponen itu maka perlindungan sosial yang tercatat paling besar alokasinya.
Pada masa COVID-19 pemerintah memfokuskan pada persoalan sosial yang secara langsung maupun tidak, berdampak pada sektor lainnya.
"Sebagai gambaran, jika seseorang terinfeksi COVID-19, selain mempengaruhi interaksi sosialnya, karena harus mengisolasi diri, juga akan mempengaruhi sektor ekonomi di sekitarnya," katanya.
Mengenai perkembangan ekonomi Sulsel dari sisi tuntutan ke depan pada 2021, ia meyakini akan lebih baik dengan sejumlah indikator seperti konsumsi rumah menu jukkan perbaikan, terutama didukung oleh belanja perlindungan sosial yang meningkat tajam, sementara kelompok menengah atas masih menunda konsumsinya.
Selain itu, investasi meningkat signifikan seiring dengan berlanjutnya proyek pembangunan fisik yang tertunda. Juga kinerja ekspor sedikit membaik, kendati impor mengalami penurunan.
Pakar ekonomi dari Universitas Hasanuddin Dr Marzuki, DEA mengatakan pandemi COVID-19 telah memperlambat kinerja semua lini, termasuk sektor pertanian Sulsel yang pertumbuhannya terkoreksi hingga minus dua persen sebagai dampak dari pandemi COVID-19.
"Sulsel yang selama ini sebagai daerah penyangga pangan nasional, namun kini sektor pertaniannya anjlok hingga minus dua persen tentu akan berpengaruh dengan daerah lainnya" kata Marzuki di Makassar, Minggu.
Dia mengatakan daerah lain khususnya di Kawasan Timur Indonesia (KTI) sangat bergantung pada suplai beras dari Sulsel, sehingga jika produksi pertanian di daerah ini terganggu, maka daerah lain pun merasakan dampaknya.
Berkaitan dengan hal tersebut, lanjut dia, ini akan memberikan pekerjaan besar bagi pengambil kebijakan di Sulsel, pasalnya, perekonomian Sulsel sebagian besar bertumpu pada sektor pertanian.
Pewarta : Suriani Mappong
Editor : Redaktur Makassar
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kemenkeu: Realisasi dana TKD di Sulsel sebesar Rp29,3 triliun per November 2025
28 December 2025 12:34 WIB
Terpopuler - Jasa
Lihat Juga
Menkeu Purbaya tambah DAU Rp7,66 triliun untuk THR dan gaji ke-13 guru ASN daerah
29 December 2025 18:40 WIB
PLN UUD Sulselrabar kembali terjunkan 21 personel, pulihkan listrik di Aceh
19 December 2025 18:30 WIB
Menkeu Purbaya: Anggaran penanganan bencana Sumatera tak hambat laju ekonomi
15 December 2025 15:31 WIB