BB Karantina : Sulsel butuh Rumah "Processing" komoditi ekspor
Kamis, 21 Oktober 2021 23:38 WIB
Suasana sosialisasi terkait peran Balai Besar Karantina Pertanian yang dipimpin Kepala BB Karantina Pertaian Makasssar, Lutfi Nasir (tengah) di Makassar, Kamis malam (21/10/2021). ANTARA/ Suriani Mappong
Makassar (ANTARA) - Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Makassar Lutfi Nasir mengatakan Sulawesi Selatan (Sulsel) memiliki banyak komoditi ekspor yang perlu pengembangan serius, sehingga membutuhkan rumah processing atau tempat pengolahan hingga pengepakan barang yang dilegalisasi oleh negara tujuan ekspor.
Hal itu dikemukakan Lutfi di sela sosialisasi terkait peran Balai Besar Karantina Pertanian dalam melindungi sumber daya hayati dan hewani di Makassar, Kamis malam.
Dia mengatakan persyaratan dari negara tujuan misalnya komoditi porang, itu harus ada rumah produksi dan rumah processing dari daerah atau negara asal.
Sementara di Sulsel, lanjut dia, baru terdapat rumah produksi sedang rumah processing untuk komoditi porang belum ada, sehingga harus dikirim ke Surabaya.
Melalui rumah processing itu, produksi porang akan disortir dan disterilkan sebelum dilakukan proses pengiriman ke negara tujuan.
Kondisi serupa juga terjadi pada komoditi sarang burung walet yang beberapa tahun terakhir banyak dikembangkan oleh masyarakat di Sulsel.
Kedua komoditi itu, diakui paling banyak diminati di negera tujuan seperti Cina, Vietnam dan sejumlah negara di Eropa. Kendati demikian masih perlu pembenahan dan pengembangan di lapangan.
Termasuk regulasi terkait rumah produksi walet ataupun pajaknya ke depan yang ditetapkan oleh pengambil kebijakan di wilayah setempat.
Suasana di sela sosialisasi terkait peran Balai Besar Karantina Pertanian yang dipimpin Kepala BB Karantina Pertaian Makasssar, Lutfi Nasir (kiri) di Makassar, Kamis malam (21/10/2021). ANTARA/ Suriani Mappong
Hal itu dikemukakan Lutfi di sela sosialisasi terkait peran Balai Besar Karantina Pertanian dalam melindungi sumber daya hayati dan hewani di Makassar, Kamis malam.
Dia mengatakan persyaratan dari negara tujuan misalnya komoditi porang, itu harus ada rumah produksi dan rumah processing dari daerah atau negara asal.
Sementara di Sulsel, lanjut dia, baru terdapat rumah produksi sedang rumah processing untuk komoditi porang belum ada, sehingga harus dikirim ke Surabaya.
Melalui rumah processing itu, produksi porang akan disortir dan disterilkan sebelum dilakukan proses pengiriman ke negara tujuan.
Kondisi serupa juga terjadi pada komoditi sarang burung walet yang beberapa tahun terakhir banyak dikembangkan oleh masyarakat di Sulsel.
Kedua komoditi itu, diakui paling banyak diminati di negera tujuan seperti Cina, Vietnam dan sejumlah negara di Eropa. Kendati demikian masih perlu pembenahan dan pengembangan di lapangan.
Termasuk regulasi terkait rumah produksi walet ataupun pajaknya ke depan yang ditetapkan oleh pengambil kebijakan di wilayah setempat.
Suasana di sela sosialisasi terkait peran Balai Besar Karantina Pertanian yang dipimpin Kepala BB Karantina Pertaian Makasssar, Lutfi Nasir (kiri) di Makassar, Kamis malam (21/10/2021). ANTARA/ Suriani Mappong
Pewarta : Suriani Mappong
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BB Kekarantinaan Kesehatan Makassar optimalkan pengawasan penumpang di Bandara Hasanuddin
20 December 2024 7:22 WIB, 2024
Warga desa Cendana Luwu Timur terima 200 geobag dari BB Pompengan-Jenebrang
04 June 2024 16:20 WIB, 2024
BB Kekarantinaan Kesehatan Makassar perluas layanan ke Bandara Pongtiku Toraja
09 April 2024 7:37 WIB, 2024
BBKSDA Sulsel beri bantuan dana pemberdayaan ekonomi kepada warga Bawakaraeng
17 August 2023 16:13 WIB, 2023
Terpopuler - Jasa
Lihat Juga
Menkeu Purbaya tambah DAU Rp7,66 triliun untuk THR dan gaji ke-13 guru ASN daerah
29 December 2025 18:40 WIB
PLN UUD Sulselrabar kembali terjunkan 21 personel, pulihkan listrik di Aceh
19 December 2025 18:30 WIB
Menkeu Purbaya: Anggaran penanganan bencana Sumatera tak hambat laju ekonomi
15 December 2025 15:31 WIB