Logo Header Antaranews Makassar

Geliat Pariwisata Enrekang Menanti Wisatawan

Selasa, 10 November 2009 04:10 WIB
Image Print

Oleh : Syarifuddin May

Makassar (ANTARA Sulsel) - Sektor pariwisata adalah salah satu pemasok devisa Negara terbesar, sehingga pemerintah terus memacu perkembangan sektor jasa ini dalam negeri untuk meraih devisa.

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata sejak tahun 2006 telah menetapkan Sulawesi Selatan sebagai daerah tujuan wisata unggulan nasional di luar Bali, bersama Sumatra Barat (Sumbar), Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi Utara (Sulut).

Sulsel yang selama ini cenderung hanya mengandalkan daerah tujuan wisata budaya Tanatoraja, kini mulai berpaling ke sejumlah kabupaten dan kota sebagai kiat diversifikasi objek wisata yang bisa menarik minat kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik.

Kabupaten Enrekang yang berbatasan dengan Tanatoraja memiliki potensi objek wisata alam, budaya, dan kuliner khas yang tidak kalah dengan daerah lain, sehingga pemerintah kabupaten Enrekang menjadikan sektor ini sebagai primadona meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pendapatan asli daerah (PAD).

Enrekang memiliki luas 1.786,01 km2, terdiri atas 12 kecamatan berada 235 Km arah utara Kota Makassar dengan jarak tempuh sekitar lima jam melalui perjalanan darat dari Makassar, berada pada ketinggian antara 70 hingga 3.000 meter dari permukaan laut dengan penorama alam yang indah dan iklim yang sejuk.

"Kami memiliki banyak objek wisata alam menarik tersebar luas di semua kecamatan yang sedang dalam pengembangan, sejalan dengan fenomena baru di sektor pariwisata dunia yakni kembali ke alam (back to Natural),
"kata Bupati Enrekang H Latinro Latunrung.

Panorama alam "Bumi Massenrenpulu" berupa perbukitan dan lembah menyajikan keteduhan dan kesejukan cukup mempesona yang dapat disaksikan sepanjang perjalanan sejak memasuki perbatasan dengan kabupaten Sidrap hingga Salu Barani, perbatasan kabupaten Tanatoraja.

Potensi itu adalah kekayaan alam menakjubkan yang menjadi unggulan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan PAD dari sektor pariwisata, ujar Bupati H Latinro pada suatu kesempatan.

Beragam objek wisata alam dan situs peninggalan masa lampau menjadi potensi unggulan daerah ini, antara lain Buttu Kabobong, permandian alam air terjun Lewaja, bunker peninggalan serdadu Jepang serta seni budaya yang memiliki ciri khas kedaerahan berupa musik bambu, serta beragam makanan khas yang dikemas dalam wisata kuliner .

Enrekang masuk dalam kawasan pengembangan pariwisata "Sawerigading" Sulsel, bersama Kabupaten Luwu, Kota Palopo, Luwu Utara, dan Luwu Timur. Daerah yang masuk dalam satu kawasan wisata ini memiliki kesamaan budaya dan seni "tempo doeloe".

Bumi Massenrempulu yang bermakna kawasan pegunungan dan lembah mengandalkan wisata alam dan budaya menyimpan seribu pesona sebagai daya tarik seperti panorama alam dan budaya khas daerah.

Empat sungai mengalir melintasi ibukota kabupaten Enrekang yakni Sungai Mata Allo, Sungai Tabang, Sungai Mamasa, dan Sungai Saddang yang bermuara di Selat Makassar menghiasi kesempurnaan wisata alam Tana Massenrempulu.

Enrekang juga menjadi jalur utama perjalanan turis menuju Tanatoraja, sehingga dapat dipastikan bahwa ribuan wisatawan mancanegara maupun domestik yang melintas di daerah ini sepanjang tahun telah menikmati sejuk dan indahnya panorama obyek wisata Gunung Nona (Buttu Kabobong) di Gunung Bambapuang.

Massenrenpulu yang juga dikenal dengan sebutan daerah "seribu gua" memiliki berbagai keunikan dengan bentuk alamnya yang khas dan cukup menarik terbagi dalam empat kasawan wisata yakni zona Mata Allo terdiri atas wilayah Baroko, Alla, Curio (wilayah barat), Malu (wilayah barat) dan Anggeraja (wilayah timur).

Kawasan Latimojong meliputi, Curio bagian timur, Baraka, Buntu Batu, Bungin wilayah timur dan Malua wilayah timut. Zona Saddang terdiri atas Masalle, Anggeraja wilayah barat, Enrekang dan Cendana serta zona Tabang terdiri atas Maiwa dan Bungin wilayah barat.

Empat zona wisata ini memiliki beragam objek wisata yang menarik berupa panorama alam, air terjun, gua, bunker, serta seni budaya berupa musik, sastra tulisan, seni tradisional permainan rakyat, musik bambu, kecapi, suling dondang-dondang, dan Barutung.

Juga terdapat budaya tradisional berupa pesta adat ritual Mandongan, Ranjan dua, Massengo-sengo, manganta, mangpakende macanning, mangtoana, Mappaliu kalo, Bangrundu Banne, pesta panen dan sejumlah acara ritual lainnya yang digelar setiap tahun oleh masyarakat di setiap desa.

Enrekang juga dikenal kaya dengan situs peninggalan purbakala berupa, kompleks Makam Tua, Pemukiman Tua, Batu Bolong, Manduk, Batu Pitu, Guci, Cambang, Issong Batu, Masjid Manyamba, dan Palak Tau (telapak tangan manusia purba).

Masyarakat Massenrempulu sangat menghormati adat, istiadat dan budaya mereka di bawah Lembaga Adat yakni, lembaga adat, Ada' Mundan, A'pa Te'pana Bua, Patongloan, Ada' Nene' Bolang, Ada' Orong, Mangtulang
Padang, Ada' Poon, dan belasan lembaga adat lainnya.

Enrekang juga memiliki tiga rumah adat yakni rumah adat Sapo, Bola Tua dan Tongkonan, sementara objek wisata ziarah antara lain, Puang Pinang, Tana Palli, To Puang, Takke Buku, Tondok Redak, Buntu Kotu, dan Nene' Bolang.

Selain itu juga ada agro wisata berupa hamparan areal perkebunan kopi, areal tanaman sayur mayur, salak, pepaya, dan kebun murbei untuk pakan ulat sutera yang menjadikan daerah ini sebagai sentra produksi benang sutera dengan kualitas terbaik di Sulsel.

Buttu Kabobong dan Lewaja

Dari sekian banyak potensi objek wisata di Enrekang, pemkab setempat menetapkan dua objek unggulan yakni Buttu Kabobong di Bambapuang Anggeraja dan permandian alam air terjun Lewaja di Enrekang.

Buttu Kabobong dengan panorama erotik, menjadi salah satu pemandangan alam pegunungan langka di dunia yang hanya ada di kabupaten Enrekang.

Meski belum ada data jumlah wisatawan asing dan domestik yang berkunjung ke objek wisata yang bentuknya menyerupai "alat kelamin wanita" itu, tetapi dapat dipastikan bahwa semua wisatawan yang berkunjung ke Tanatoraja dan melintas di Bambapuang pada siang hari akan menikmati indahnya panorama bukit erotik itu.

Selain pemandangan yang penuh pesona, di kawasan obyek wisata Bambapuang juga bisa dinikmati pemandangan "sunrise" (mata hari terbit di ufuk timur) dan "sunset" (mata hari terbenang di ufuk barat) menambah suasana menyenangkan saat berada di Bambapuang.

Di kawasan wisata ini juga dapat ditemui 25 buah "bunker" peninggalan sedadu Jepang pada Perang Dunia II yang menempel di tebing bukit batu.

Rahman, penduduk setempat mengatakan, banyak wisatawan Jepang yang khusus datang ke Enrekang untuk melihat bunker itu.

Wisatawan yang melintas maupun yang menyempatkan diri beristirahat di Villa Bambapuang tak ketinggalan mengabadikan indahnya erotik Buttu Kabobong, dengan camera, sehingga objek wisata ini telah dikenal luas
turis mancanegara.

Sementara obyek wisata air terjun Lewaja berada empat kilometer dari pusat kota Enrekang menjadi unggulan karena kawasan wisata alam ini menyimpan berbagai keunggulan yang tidak kalah dengan obyek wisata sejenis di daerah lain.

Selain air terjun yang mengalir sepanjang tahun, juga ada anak tangga menuju lokasi air terjun di bibir tebing batu. Sebelum tiba di lokasi air terjun, pengunjung bisa bersantai di kolam renang ukuran standar nasional.

Kawasan wisata alam ini semakin sempurna karena di dalamnya terdapat agro wisata berupa kebun durian, mangga, salak, dan rambutan yang bisa dinikmati saat pengunjung berada di objek wisata alam ini.

Beragam jenis satwa dilindungi dan spesis angrek serta satwa langka khas Sulawesi, Anoa juga hidup di alam bebas, sehingga memberi kesempurnaan dan memperkaya Tana Massenrempulu. Juga bisa ditemui berbagai spesis kupu-kupu dan burung dilindungi seperti burung Ranggong, ayam hutan serta satwa langka lainnya yang hidup bebas di
hutan Enrekang..

Makanan tradisional melengkapi kesempurnaan dan keunggulan wisata Enrekang dengan sajian menu khas daerah seperti dangke, nasu cemba, deppa, baje kotu dan berbagai jenis makanan khas yang diramu dalam wisata kuliner khas Enrekang menjadi daya tarik yang tak akan terlupakan bagi mereka yang telah menikmatinya.

Sebagai jalur utama Makassar-Tanatoraja, maka Enrekang memegang peran cukup penting, karena wisatawan yang melintas akan menyaksikan panorama alam yang mempesona serta alunan musik bambu sebagai seni khas Tana Massenrempulu.

Enrekang Daerah yang penuh keragaman dan kaya akan kearifan budaya diantara empat etnis Bugis, Luwu, Toraja dan Mandar.

Menurut Legenda dan Mitos dalam Lontara Mandar, bahwa Enrekang merupakan daerah pertama dalam peradaban manusia, tepatnya di "Lura Bambapuang" mereka mendiami sepanjang aliran Sungai Saddang. Suku Bugis mengenalnya sebagai "Tana Rigalla Ana Riabbusungi" yang bermakna tanah yang dikeramatkan dan dihormati.

Pemkab Enrekang melestarikan, membina dan mengembangkan seni budaya daerah melalui pembentukan lembaga adat, menggelar festival seni dan budaya, memberi bantuan sarana dan peralatan pada kelompok seni dan
budaya.

Gelar Bumi Massenrempulu sejak tahun 1511 yang berarti daerah pegunungan dan lembah memiliki letak geofrafi yang khas terdiri atas bukit, gunung, lembah dan sungai menggambarkan harmonisasi dan dinamika masyarakatnya sejak masa "Megalitik" dengan terpeliharanya pesta adat "Maccera Manurung".

Masyarakat daerah ini memegang teguh adat istiadat sebagai panutan dan mewarnai kehidupan masyarakatnya yang religius.

Di samping itu, Masyarakat setempat juga melestarikan seni tradisional berbasis pada bambu sebagai media dan peralatan musik, begitupula dengan tari-tarian tradisional yang lahir dari peradaban masa lampau.

Dalam melestarikan seni dan budaya tersebut, Pemkab Enrekang menghidupkan kegiatan di bidang budaya dan seni lewat pembinaan terhadap 72 kelompok seni musik, 47 kelompok seni sastra, 13 kelompok seni tari, 9 sanggar seni. Selain itu juga ada kegiatan 103 pesta adat, dan 33 lembaga adat.

Wisata kuliner

Bukan hanya wisata alam dan budaya, tetapi Enrekang juga kaya dengan beragam jenis makanan yang telah dikemas dalam paket wisata kuliner dan punya daya tarik dengan cita rasa khas kedaerahan.

Dangke, adalah salah satu makanan tradisional Enrekang yang sudah dikenal luas, bahkan telah memiliki hak paten sehingga tidak ada satu pun daerah yang memproduksi makanan sejenis mengklaim nama yang sama.

"Dangke yang terbuat dari bahan baku susu kerbau dan sapi telah memiliki hak paten, sehingga Pemkab Enrekang terus mengembangkan keju khas Enrekang ini dengan menggandeng Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk meningkatkan produksi dan perbaikan kualitas, "ujar Bupati Latinro saat menerima rombongan wartawan peserta lomba karya tulis jurnalistik di Enrekang.

Selain itu, Tana Massenrempulu juga punya makanan tradisional yang telah dikenal di Sulsel seperti baje kotu, baje karrang, baje canggoreng, dodol malino, deppe tektekan dan nasu cemba.

Kue asal Enrekang punya ciri khas karena dikemas dalam bungkusan daun jagung kering, alami tanpa pengawet, tidak seperti kebanyakan kue yang ditemukan di kota-kota besar yang menggunakan wadah bahan plastik, bahkan diduga memakai bahan pewarna.

Pemkab Enrekang telah mengembangkan makanan khas ini dalam industri pariwisata untuk manarik kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik.

Situs Tontonan

Enrekang yang mengunggulkan wisata alam dan budaya kini berbenah diri dan terus menggeliat menanti kunjungan wisatawan.

Situs Tontonan (serambi mayat) di kampung Tontonan Tanete Kecamatan Anggeraja yang berada pada ketinggian 510 meter dari permukaan laut adalah salah satu objek wisata menarik.

Tontonan adalah situs kuburan pra sejarah tempat menyimpan mayat dalam gua setelah dimasukan ke dalam peti yang terbuat dari kayu.

Bukan hanya menyiapkan objek wisata unggulan yang menarik dan menjanjikan masa depan daerah ini, akomodasi juga telah siap menanti wisatawan mancanegara dan domestik yang datang ke daerah ini.

Sejumlah hotel dan penginapan dengan fasilitas standar telah menanti kunjungan turis, baik yang ada di Kota Enrekang maupun sebuah vila representatif di Bambapuang dengan pemandangan panorama alam Buttu Kabobong.

Enrekang sebagai penyangga daerah wisata budaya Tanatoraja kini menggeliat menanti kunjungan wisatawan dengan berbagai ragam objek sebagai suguhan menarik seperti wisata alam, budaya dan seni serta beragam jenis makanan dengan cita rasa khas yang tidak akan terlupakan bagi mereka yang datang ke Bumi Massenrempulu yang penuh daya tarik dan pesona alam.

(S016/F003)