
Utusan Khusus Presiden bawakan kuliah Pascasarjana Unhas

Makassar (Antaranews Sulsel) - Utusan Khusus Presiden RI untuk Pengendalian Perubahan Iklim, Prof Rachmat Witoelar hadir membawakan kuliah dihadapan Pascasarjana Universitas Hasanuddin di Aula Prof Dr Ir Fachrudin, Gedung Sekolah Pascasarjana Unhas, Kamis.
Prof Rachmat Witoelar dalam kuliahnya mengutip Global Risk Assesmen 2019 dari World Economic Forum, upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim mengalami kegagalan yang ditandai dengan terjadinya peristiwa cuaca ekstrem, krisis pangan dan air, hilangnya keanekaragaman hayati, dan rusaknya ekosistem.
Di Indonesia, selama bertahun-tahun, peristiwa bencana yang terjadi dominan bersifat hidro-meteorologi, seperti banjir, kekeringan; cuaca ekstrem, dan kebakaran lahan. Ini menyebabkan kerugian ekonomi yang tinggi, mengurangi kualitas hidup, dan merusak lingkungan," katanya.
Kuliah umum ini mengambil tema "Peran Universitas Dalam Mempercepat Aksi Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim".
Dia menyatakan, persoalan tersebut merupakan akibat dari berbagai kegiatan manusia sendiri yang menimbulkan emisi gas rumah kaca, seperti penggunaan lahan, alih fungsi lahan, eksploitasi hutan, penggunaan energi dan transportasi berbahan fosil, aktivitas industri, manajemen sampah yang buruk, dan lainnya.
Prof Rachmat Witoelar mengungkapkan beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mempercepat aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Pertama, mengembangkan data global dan sistem pemantauan yang kuat dan terintegrasi untuk memberikan informasi berbasis sains kepada para pembuat kebijakan. Kedua, meningkatkan kolaborasi antarnegara dan pemangku kepentingan dalam upaya mitigasi perubahan iklim.
Ketiga, melibatkan semua pihak (non-state actors) termasuk perguruan tinggi dalam aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Terakhir, menciptakan dan memperluas enabling environment untuk inovasi dan langkah terobosan. "Perubahan iklim adalah urusan semua orang. Karena itu, setiap orang harus melakukan aksi. Perubahan iklim tidak dapat ditangani oleh pemerintah saja," katanya.
Menyikapi fenomena perubahan iklim, menurut alumnus Institut Teknologi Bandung tersebut, peran perguruan tinggi sangat penting. Peran itu diperlukan dalam penelitian, penyediaan data, dan penyebarluasan informasi pada pengambil kebijakan dan masyarakat.
"Jadi peran perguruan tinggi sudah bagus. Tetapi, lebih dituntut lagi karena tantangannya semakin besar. Saya harapkan perguruan tinggi, citvitas akademika, para pengajar dan mahasiswa betul-betul menekuni masalah ini," ujarnya.
Di satu pihak untuk ilmunya, di lain pihak untuk memasyarakatkan karena ini perlu partisipasi masyarakat," lanjut dia.
Rachmat Witoelar berharap Unhas dapat memainkan peran yang strategis dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Sebab, Unhas memiliki sumber daya manusia yang kuat, dan program studi yang terkait dengan perubahan iklim.
"Karena itu, saya berbicara dengan Pak Dekan agar Unhas dijadikan hubungan, pusat daripada intelektual dan pengkajian mitigasi perubahan iklim di Indonesia Timur," ungkapnya.
Kuliah umum tersebut diisi dengan sesi tanya jawab untuk berdiskusi secara langsung dengan narasumber. Sesi tersebut semakin memberikan pemahaman dan tambahan pengetahuan bagi peserta kuliah umum.
Pewarta : Abdul Kadir
Editor:
Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
