Logo Header Antaranews Makassar

Integrasi Risiko Bencana Dalam Kurikulum Sekolah

Minggu, 6 Desember 2009 22:23 WIB
Image Print

Palu, Sulteng (ANTARA Sulsel) - Materi pengurangan risiko dan tanggap darurat bencana diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah-sekolah di Sulawesi Tengah.

"Dalam waktu dekat ini, kami akan rapat bersama dengan tiga sekolah di kecamatan ini untuk penyeragaman materi," kata Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Donggala, Sulteng Obet Nego di Palu, Minggu.

Menurut dia, pihaknya akan membicarakan rencana integrasi materi bencana alam ke dalam mata pelajaran IPA dan IPS.

Hal itu dilakukan karena beberapa sekolah di daerah itu terletak di pinggiran daerah aliran sungai (DAS) Miu dan DAS Palu yang rentan bencana banjir dan gempa.

Obet menyebutkan, tiga sekolah yang masuk dalam program tanggap bencana di kabupaten Donggala ini yakni SD Inpres Omu, SD Inpres Tuwa dan SD Inpres Pakuli akan memperoleh integrasi bencana ke dalam kurikulum mereka.

"Pendekatan kurikulum risiko bencana cukup tepat di berikan, agar siswa di daerah ini tidak panik jika tiba-tiba bencana itu terjadi," ujarnya.

Selain itu, simulasi bencana di sekolah-sekolah sering dilakukan yakni dua minggu sekali

"Simulasi di sekolah ini kami lakukan untuk membiasakan anak-anak dalam kondisi siaga bencana. Paling tidak, mereka sudah tidak panik ketika ancaman itu datang," ungkapnya.

Budaya keselamatan pelajar sekolah terhadap risiko bencana diakui cukup efektif melalui pendekatan pendidikan, sebab korban bencana gempa maupun banjir cukup besar menimpa anak-anak.

Koordinator Pendampingan Pengurangan Resiko Sekolah, Yayasan Jambata Sulteng, Andi mengaku, salah satu cara yang dilakukan pihak sekolah ketika gempa itu datang adalah dengan cara membunyikan sirene, yang seketika itu juga respon seluruh murid dan guru keluar ruangan kelas dan menuju ke halaman sekolah.

"Kami tidak mengajarkan mereka bersembunyi di bawah meja ketika gempa terjadi. Tetapi, kami suruh mereka ke luar dengan teratur menuju lapangan sekolah guna menghindari reruntuhan bangunan," ujarnya.

(T.PK-HK/Z002)