
Kota di Utara Sulteng Terancam Terisolasi

Palu (ANTARA Sulsel) - Sejumlah kota di bagian utara Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), seperti Tolitoli dan Buol, terancam terisolasi, menyusul bencana alam tanah longsor pada banyak titik jalan Trans-Sulawesi bagian barat dan timur akibat tingginya curah hujan dalam sepekan terakhir.
Wartawan ANTARA yang memantau kondisi ruas jalan tersebut selama dua hari hingga Selasa dini hari, menyaksikan kerusakan badan jalan diberbagai tempat, baik yang ditimbulkan oleh tanah longsor maupun akibat tergerus air hujan hingga sebagian badan jalan ambruk.
Di ruas jalan Mepanga-Basi yang memotong "leher" Pulau Sulawesi di bagian paling utara terdapat satu longsoran besar yang menimbun badan jalan. Longsoran ini tak jauh dari Pos Polisi Labonu, perbatasan Kabupaten Tolitoli dan Kabupaten Parigi-Moutong.
Sebuah mobil truk yang mengangkut barang campuran dari Makassar tujuan Tolitoli-Buol jatuh ke dalam jurang berkedalaman sekitar 80 meter sebelum kemudian terbakar, ketika berusaha melintasi jalan darurat yang sempit buatan penduduk setempat di lokasi longsoran itu.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa pada Jumat (26/12) tersebut, sebab ketika ban belakang mobil naas itu baru mulai terperosok ke dalam jurang, sopir dan kondekturnya cepat membuka pintu kendaraan dan meloncat ke gundukan longsoran yang sejajar dengan badan jalan.
Di lokasi kejadian, para penduduk setempat mengutip bayaran Rp10 ribu per mobil dan Rp5.000 untuk sepeda motor yang melintas.
"Saya perkirakan ruas jalan Palu-Tolitoli melintasi ruas jalan ini dalam beberapa hari ke depan akan terputus, apabila curah hujan masih mengguyur. Apalagi tanah-tanah di kawasan pegunungan ini sangat labil karena terdiri atas batuan lepas," tutur Anto (26), salah seorang menunggu kendaraan di lokasi longsoran itu.
Selain terdapat sebuah longsoran besar, banyak bagian badan jalan di kawasan Pegunungan Timbobala ini mengalami kerusakan parah seperti berlubang-lubang dan menjadi sempit karena tinggal tersisa sebagian akibat tergerus air hujan.
Para sopir kendaraan yang melintasi ruas jalan hingga mencapai ketinggian di atas 1.620 meter dari permukaan laut itu harus ekstra hati-hati agar tidak mengalami kecelakaan, sebab kerusakannya berada pada badan jalan yang curam dan berkelok-kelok.
Ruas jalan ini sangat vital karena menjadi pilihan utama para sopir angkutan umum dan angkutan pribadi dari Palu menuju Tolitoli melalui Trans Sulawesi wilayah timur, dikarenakan jarak tempuhnya lebih pendek dan tingkat kerusakannya relatif kecil jika dibanding melalui Trans Sulawesi wilayah barat.
Demikian halnya jalur jalan Tolitoli-Palu yang melintasi Trans Sulawesi wilayah barat, terdapat sejumlah longsoran yang menimbun badan jalan disertai pepohonan yang tumbang.
Bahkan pada beberapa di titik, sebagian badan jalannya sudah ambruk ke dalam jurang sehingga tinggal tersisa 2-3 meter.
Kerusakan terparah di ruas jalan ini terdapat di kawasan sangat rawan kecelakaan, seperti di Pegunungan Lenju, Pegunungan Pesik, Pegunungan Tompe, dan Pegunungan Enu, yang kesemuanya berada di pantai barat Kabupaten Donggala.
Kondisi longsoran di ruas jalan tersebut sangat memprihatinkan, sebab berada pada jalan yang terjal.
Bila hujan deras turun,maka kendaraan bisa terperangkap di tengahnya atau terhempas ke dalam jurang, sebab semua lokasi longsoran itu berpotensi menimbulkan longsoran yang lebih besar karena struktur tanahnya terdiri atas bantuan lepas dan yang tidak terlalu merekat.
"Saya berharap Departemen PU segera membenahi ruas jalan vital dengan cara melebarkan bagian bukit dan pegunungan yang sempit hingga beberapa beberapa meter, guna menghindari jatuhnya korban jiwa saat terjadi musibah tanah longsor," pinta Yunus Mardjuni, anggota DPRD Provinsi Sulteng seusai melakukan peninjauan di lokasi-lokasi longsoran tersebut, Selasa.
Ia juga meminta pemerintah pusat segera menyelesaikan pekerjaaan rehabilitasi semua jaringan jalan Trans Sulawesi wilayah barat, guna melancarkan kembali roda perekonomian masyarakat di Kabupaten Tolitoli dan Kabupaten Donggala yang terganggu akibat banyaknya kerusakan serius badan jalan di kawasan tersebut.
Kepala Dinas Kimpraswil Sulteng, M. Noer Mallo, mengatakan penanganan kerusakan badan jalan yang sudah sangat parah di jalur Trans sulawesi wilayah barat dan wilayah timur itu merupakan kewenangan pemerintah pusat. (T.R015/S016)
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
