Logo Header Antaranews Makassar

Unhas Kukuhkan Dua Guru Besar

Kamis, 2 September 2010 21:32 WIB
Image Print
FOTO Dok.Ist

Makassar (ANTARA News) - Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Kamis, mengukuhkan dua guru besar Fakultas Kedokteran Prof dr Peter Kabo, PhD, MD, SPFK, SPJP dan Prof Dr dr Dasril Daud, SpA (K) sebagai guru besar ke-235 dan ke-236 Unhas.

Peter Kabo menyampaikan orasi bertajuk "Meningkatkan efisiensi pelayanan kesehatan melalui pendekatan Farmakoterapi yang rasional" dan Dasril Daud dengan orasi "Thalassemia sebagai penyakit genetik, saat ini dan Masa Datang".

Dalam orasinya yang disampaikan pada rapat senat terbuka luar biasa Unhas yang dipimpin Rektor/Ketua Senat Unhas Prof Dr dr Idrus A Paturusi, Peter Kabo mengatakan, obat merupakan bahan esensial bagi kehidupan manusia, sebab tanpa obat manusia tidak sanggup dan sulit hidup. Manusia mengenal penyakit sejak awal peradaban dan menafsirkannya sebagai gangguan hidup.

"Penyakit menyebabkan berkurangnya produktivitas seseorang. Guna mengatasi gangguan ini, manusia sejak dahulu kala melakukan penyembuhan yang tercatat dan terekam di dalam kitab kedokteran kuno di Mesir, Yunani, Arab, dan China," kata maha guru Bidang Ilmu Farmakologi yang dilahirkan di Makassar 29 Maret 1950 tersebut.

Dia menyebutkan,menjamurnya obat baru merupakan berkah bagi pelayanan kesehatan, saat pilihan obat menjadi longgar. Meski masih banyak penyakit yang belum ditemukan, tetapi masyarakat yang membutuhkan obat relatif masih dicukupi. Tetapi, pada sisi lain lain, jumlah obat yang banyak mengundang hiruk pikuk penggunaan obat.

Peter Kabo yang menyelesaikan pendidikan doktornya (1989) dan Doctor of Medicine (1992) di Melbourne Australia, mengatakan, akibat membanjirnya informasi dan pabrik obat tanpa diimbangi penyebaran informasi penggunaan obat secara rasional menimbulkan banyak masalah. Misalnya, polifarmasi (penggunaan obat) yang lebih banyak dari yang sebenarnya diperlukan.

Penggunaan obat tidak berhubungan dengan diagnosis. Penggunaan obat mahal yang tidak perlu dan penggunaan antibiotik yang tidak sesuai.

"Hal ini bukan menyebabkan pengobatan menjadi tidak efektif, melainkan menimbulkan banyak efek samping yang kadang-kadang menyebabkan pasien harus dirawat di rumah sakit," katanya.

Sedangkan Dasril Daud dalam orasinya mengatakan, talassemia sebagai penyakit genetik, merupakan penyakit darah bawaan pada anak yang paling banyak dibahas, paling sedikit diteliti namun paling lengkap diungkapkan kelainan molekulernya.

Selain itu, talassemia adalah penyakit bawaan terbanyak di antara penyakit darah yang bersifat congenial, bahkan terbanyak dari seluruh kelainan genetic di dunia.

"Oleh karena itu, talassemia dapat dipandang sebagai suatu model yang menggambarkan perkembangan penyakit darah pada anak, bahkan sebagai model yang tepat untuk membahas penyakit genetik," ujar Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran yang dilahirkan di Makassar 23 September 1952 tersebut.

Menurut dia, terjadi peningkatan perhatian yang sangat bermakna terhadap penyakit-penyakit genetik atau bawaan di negara barat dalam dekade terakhir ini. Perhatian ini tidak hanya dalam profesi kedokteran, tetapi juga berbagai bidang lain seperti profesi hukum, politik, industri, dan asuransi jaminan kesehatan.

Alasan meningkatnya perhatian ini, karena penyakit genetik bukan hanya penyebab utama kematian bayi, melainkan bertanggungjawab atas morbiditas bayi. Pasangan suami istri menginginkan keluarga kecil dengan kualitas anak yang normal dan sehat. Tidak berkembangnya cara-cara diagnosis dini untuk penderita maupun pembawa sifat penyakit genetik yang memungkinkan diagnosis prenatal dan terminasi kelahiran secara efektif jika diperlukan.

"Keinginan untuk melakukan program pencegahan bagi penyakit=penyakit genetik yang memerlukan pengobatan jangka panjang," ujar Dasril Daud kemudian menambahkan, kemajuan penelitian dalam genetik molekuler, biokimia sel telah memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai patomekanisme penyakit=penyakit genetik.

Hasil penelitian yang Dasril lakukan bersama di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman sejak tahun 1996 terungkap sekitar 28 jenis mutasi gen yang mendasari talassemia telah dilaporkan di Indonesia.

Di Sulawesi Selatan sendiri diidentifikasi tujuh gen mutasi talassemia. Dua jenis mutasi diantaranya yakni delesi Filipino dan Hb Lepore yang hanya ditemukan pada suku Bugis dan Makassar, tidak ditemukan dipopulasi lain di Indonesia. (T.pso-102/F003)



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026