
PMB dan UN Sering Timbulkan Pro-Kontra

Makassar (ANTARA News) - Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Ir Agus Arifin Nu'mang mengatakan, penerimaan murid baru (PMB) dan Ujian Nasional (UN) sering menjadi momen yang menimbulkan pro-kontra dari berbagai pihak.
Pro-kontra itu mulai dari masyarakat awam hingga politisi dengan argumentasinya masing-masing.
"Siapa yang mau anaknya tidak lulus PMB dan tidak sukses UN. Namun saya harapkan agar kita tidak perlu larut membicarakan Ujian Akhir Sekolah (UAS) dan UN, tetapi mari berusaha secara bertanggungjawab meningkatkan kualitas anak didik," kata Agus Arifin Nu'mang ketika membuka Rapat Koordinasi Ujian Nasional Tingkat SMA, MA/SMK se-Sulsel dan Sosialisasi Seleksi Nasional Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) yang dilaksanakan Universitas Hasanuddin (Unhas) bekerja sama dengan Kantor Kementerian Pendidikan Nasional Sulsel, di Makassar, Senin.
Sosialisasi itu dihadiri Rektor Unhas Idrus A Paturusi, Wakil Rektor I Dadang Ahmad Suriamiharja, Ketua Dewan Pendidikan Sulsel Prof Halide, Kepala Dinas Pendidikan Sulsel Pattabai Pabokori, wakil dari Kantor Kementerian Agama, pada Kadis Pendidikan se-Sulsel dan kepala-kepala SLTA se-Sulsel.
Ujian nasional yang dilaksanakan sejak 2003 yang mengombinasikan keberhasilan dan pemetaan kelulusan siswa, kata Wagub, dimaksudkan untuk mengetahui keberhasilan proses belajar mengajar, mengetahui prestasi akademik para siswa, dan memperoleh gambaran tentang kualitas secara nasional dengan melihat varietas dan diskrepansi secara nasional.
"Kelulusan UN ditentukan hasil UN dan UAS dan penilaian terhadap ahlak mulia," kata Agus Arifin Nu'mang, kemudian mengharapkan, menghadapi UN hendaknya Sulsel mengambil langkah-langkah, baik menyangkut validasi data dan pendalaman materi ujian terhadap anak didik.
Rektor Unhas Idrus A Paturusi mengatakan, Unhas sudah tiga tahun dipercayakan ikut mengawasi pelaksanaan UN di Sulsel dengan melibatkan sejumlah perguruan tinggi negeri di daerah ini. Dalam berbagai pertemuan di tingkat nasional dengan Mendiknas, digagas keinginan menggabung pelaksanaan UN, sekaligus penjaringan untuk SNMPTN. Namun tampaknya masih banyak kendala.
"Pencetakan soal UN ditender, sehingga dari segi pengawasan agak sulit. Kalau soal SNMPTN dicetak oleh perguruan tinggi yang memiliki percetakan, sehingga mereka yang terlibat dalam proses pembuatan dan pencetakan soal diawasi dan dikarantina," sebut Idrus Paturusi.
Rektor juga menjelaskan, tahun 2011 ini perguruan tinggi negeri jatah untuk para lulusan SLTA melalui jalur undangan.
Mereka ini dinilai dari prestasi akademik dan mendaftar secara online hingga 12 Maret 2011. Hanya saja, banyak di antara pelamar jalur ini memilih fakultas tertentu, sehingga kuota di beberapa fakultas lainnya tidak terisi. Sesuai data terakhir, hingga kemarin, pelamar Unhas melalui jalur ini baru 253 orang dan secara nasional 25.036 orang.
Rektor menjelaskan, tahun 2011 Unhas memperoleh kuota 500 mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi, sama dengan jatah tahun 2010.
"Hanya saja, tahun ini beasiswanya naik menjadi Rp12 juta per tahun, termasuk biaya hidup, SPP, uang buku, dan di asramakan pada tahun pertama. Tahun lalu Rp10 juta, dengan fasilitas yang sama," ujar Rektor.
Berdasarkan hasil evaluasi semester pertama, dari 500 mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi angkatan pertama, hanya enam orang yang meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) di bawah 3,00. Mereka setiap tahun akan terus dievaluasi dan kelanjutan beasiswanya akan ditentukan prestasi akademik mereka, dengan standar IPK minimal 2,70.
Ketua Dewan Pendidikan Sulsel Prof Dr Halide dalam arahannya di depan sekitar 700 kepala dinas pendidikan dan kepala SLTA di Sulsel meminta kepada para guru tidak mengajarkan anak didiknya menyontek pada saat pelaksanaan ujian."
"Menyontek itu tidak ada gunanya. Itu dosa besar," kata Halide yang disambut ketawa undangan.
Halide juga mengingatkan para kepala sekolah tidak me-mark up nilai para siswanya. Dosa besar juga jika memberi nilai tidak sesuai dengan yang diperoleh anak didik.
"Jangan 'mark up' nilai. Biarkan apa adanya. Oleh sebab itu diperlukan kejujuran untuk menemukan dan menghasilkan anak Sulawesi Selatan menjadi the best (yang terbaik)," ujar Halide.(T.KR-AAT/F003)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
