
Pengusaha Lirik Potensi Sulsel

Makassar (ANTARA News) - Pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri melirik potensi besar yang dimiliki Sulsel dan sikap terbuka pemerintah setempat.
"Beberapa anggota Kadin ingin berinvestasi disini karena potensi besar serta sikap terbuka pemprov,," kata Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Kadin, John Palinggi pada acara penutupan Mukernas Kadin di Makassar, Minggu.
Menurut dia, Makassar dipercaya menjadi tuan rumah Mukernas Kadin 1-3 April yang untuk pertama kalinya digelar di luar Jawa dan Bali karena gubernur maupun ketua Kadin Sulsel bekerja.
"Tinggalkanlah sifat-sifat egoisme kedaerahan karena tidak dibutuhkan. Yang terpenting adalah sikap dan sasaran yang konkrit dan argumen yang kuat. Dan itu dimiliki gubernur disini," katanya.
Ketua Asosiasi Rekanan Pengadaan Barang Indonesia (Ardin) ini melihat, dengan sikap pejabat seperti itu, dalam 6-12 bulan terakhir pengusaha yang menanamkan modalnya di Sulsel khususnya Kota Makassar, meningkat pesat.
Jhon yang juga Sekjen Badan Interaksi Sosial Masyarakat (Bisma) menaruh harapan besar Mukernas Kadin di Makassar mampu membuka mata dan ruang bagi pengusaha untuk lebih banyak berkiprah di Kawasan Timur Indonesia (KTI).
Sementara, Ketua Dewan Pertimbangan Kadin, Oesman Sapta, menegaskan pembangunan infrastruktur di KTI harus menjadi prioritas pemerintah demi meningkatkan daya saing ekonomi.
"Pembangunan infrastruktur di Pulau Jawa adalah masa lalu, dan saat ini adalah di KTI. Setelah itu, barulah Kalimantan yang menjadi kawasan pembangunan masa depan," ucapnya.
Menurut Wakil Ketua MPR RI ini, pembangunan infrastruktur di luar pulau Jawa harus diprioritaskan pemerintah, khususnya angkutan darat, laut dan udara, sebab itu yang menjadi syarat mutlak untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.
Untuk mengejar ketertinggalan dengan Pulau Jawa, pemerintah diminta mengalokasikan dana besar sesuai dengan kebutuhan pembangunan infrastruktur di daerah.
Ia menambahkan, jika memungkinkan, di setiap daerah besar di KTI harus dibangun pelabuhan besar standar ekpor, sehingga tidak perlu lagi ke Jawa untuk melakukan ekspor seperti selama ini.(T.KR-AAT/S016)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
