
Kecepatan Angin di Mamuju 60 Kilometer Perjam

Mamuju (ANTARA News) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menyatakan kecepatan angin yang bertiup kencang didaratan Kota Mamuju mencapai sekitar 60 kilometer perjam.
"Pantauan citra satelit BMKG stasiun Majene, tampak ada pergerakan, awan Cumulonimbus didaratan Kota Mamuju,"kata Kepala stasiun BMKG Kabupaten Majene, Edy Sofyan, di Mamuju, Senin.
Ia mengatakan, awan Cumulonimbus tersebut merupakan awan yang menjadi pemicu munculnya angin puting beliung atau angin yang bertiup kencang yang bisa memporak-porandakan apa saja yang ditemuinya.
Menurut dia, kecepatan angin puting beliung tersebut sekitar 60 kilometer perjam bertiup dari arah selatan kota Mamuju.
"Pada bulan April ini awan Cumulonimbus akan selalu muncul karena Kota Mamuju memasuki musim pancaroba atau musim tidak menentu, hingga bulan Juni mendatang," katanya.
Ia mengatakan, awan itu tetap akan selalu muncul diwaktu tertentu ditandai dengan cuaca panas yang membuat gerah lalu disusul turun hujan.
Oleh karena itu ia meminta agar masyarakat di Kota Mamuju tetap mewaspadai awan itu karena berpotensi menimbulkan angin gila yang dikenal dengan puting beliung, karena jangan sampai masyarakat menjadi korban.
Sementara itu munculnya angin puting beliung di Mamuju sekitar pukul 12.00 wita hingga pukul 01.00 wita siang ini, membuat panik sejumlah pegawai kantor Gubernur Sulbar, karena angin gila itu merusak bangunan parkir kantor Gubernur Sulbar hingga roboh ketanah.
"Sejumlah pegawai dikantor Gubernur Sulbar sempat panik sewaktu datannya angin itu, karena datang dengan tidak disangka terjadi, bangunan parkir yang terdapat dibelakang kantor Gubernur roboh, sehingga menimpa sejumlah kendaraan roda dua yang ada dibawahnya," kata Andre salah seorang pegawai.
Ia mengatakan, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tetapi sejumlah pegawai trauma dengan kejadian itu dan takut ketika kembali terjadi. (T.KR-MFH/A033)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
